عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رِجَالًا مِنْ الْمُنَافِقِينَ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانُوا إِذَا خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْغَزْوِ تَخَلَّفُوا عَنْهُ وَفَرِحُوا بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اعْتَذَرُوا إِلَيْهِ وَحَلَفُوا وَأَحَبُّوا أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَنَزَلَتْ لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنْ الْعَذَابِ
|
Dari Abu Said Al Khudri RA, bahwasanya orang-orang munafik pada masa Rasulullah SAW
senantiasa tidak turut pergi berperang. Mereka merasa senang karena tidak turut bertempur bersama Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah SAW baru kembali dari medan pertempuran, maka mereka pun menyampaikan berbagai alasan dengan sumpah. Selain itu, mereka juga sangat senang jika dipuji mengenai apa yang sebenarnya tidak pernah mereka lakukan. Oleh karena itu, turunlah ayat, Janganlah kamu sekali-kali menduga bahwasanya orang-orang yang bergembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka untuk dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan. Janganlah kamu menduga bahwasanya mereka akan terlepas dari siksa. (Qs. Aali Imraan(3): 188) {Muslim 8/121-122}
|
عنَّ حُمَيْد بْن عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ مَرْوَانَ قَالَ اذْهَبْ يَا رَافِعُ لِبَوَّابِهِ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ فَقُلْ لَئِنْ كَانَ كُلُّ امْرِئٍ مِنَّا فَرِحَ بِمَا أَتَى وَأَحَبَّ أَنْ يُحْمَدَ بِمَا لَمْ يَفْعَلْ مُعَذَّبًا لَنُعَذَّبَنَّ أَجْمَعُونَ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ مَا لَكُمْ وَلِهَذِهِ الْآيَةِ إِنَّمَا أُنْزِلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ فِي أَهْلِ الْكِتَابِ ثُمَّ تَلَا ابْنُ عَبَّاسٍ وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ هَذِهِ الْآيَةَ وَتَلَا ابْنُ عَبَّاسٍ لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ سَأَلَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شَيْءٍ فَكَتَمُوهُ إِيَّاهُ وَأَخْبَرُوهُ بِغَيْرِهِ فَخَرَجُوا قَدْ أَرَوْهُ أَنْ قَدْ أَخْبَرُوهُ بِمَا سَأَلَهُمْ عَنْهُ وَاسْتَحْمَدُوا بِذَلِكَ إِلَيْهِ وَفَرِحُوا بِمَا أَتَوْا مِنْ كِتْمَانِهِمْ إِيَّاهُ مَا سَأَلَهُمْ عَنْهُ
|
| Dari Humaid bin Abdurrahman bin Auf bahwasanya Marwan pernah memerintahkan pembantunya dengan berkata, "Hai Rafi, pergilah ke rumah Ibnu Abbas! Tanyakanlah kepadanya bahwa masing-masing kita merasa senang dengan apa yang telah kita laksanakan dan merasa dipuji terhadap apa yang belum kita kerjakan. Apakah kita semua akan mendapat siksa?" Ibnu Abbas menjawab, "Mengapa kamu memahami ayat tersebut seperti itu? Sebenarnya ayat tersebut diturunkan berkaitan dengan kaum Ahli Kitab." Lalu Ibnu Abbas membaca ayat, "Dan ingatlah ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab, yaitu hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada manusia dan janganlah kamu menyembunyikannya. Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Betapa buruknya tukaran yang mereka terima." (Qs. Aali Imraan(3): 187) Setelah itu, Ibnu Abbas membaca ayat berikutnya, "Janganlah sekali-kali kamu menduga bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang mereka telah kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa. " (Qs. Aali Imraan(3): 188) Ibnu Abbas berkata, "Orang-orang Ahli Kitab yang bersikap munafik ditanya oleh Rasulullah tentang sesuatu. Lalu mereka pun menyembunyikannya dan menjawab dengan jawaban yang bukan sebenarnya, seolah-olah jujur. Selain itu mereka menginginkan pujian dari Rasulullah dengan perilaku mereka tersebut. Mereka sangat senang dengan kebohongan yang telah mereka kerjakan dalam menjawab pertanyaan Rasulullah itu." (Muslim 8/122)
|