2/3/17

Seorang Hakim Tidak Boleh Menetapkan Suatu Perkara dalam Keadaan Marah

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ كَتَبَ أَبِي وَكَتَبْتُ لَهُ إِلَى عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ وَهُوَ قَاضٍ بِسِجِسْتَانَ أَنْ لَا تَحْكُمَ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَأَنْتَ غَضْبَانُ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَحْكُمْ أَحَدٌ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَهُوَ غَضْبَانُ
Dari Abdurrahman bin Abu Bakrah, dia berkata, "Suatu ketika ayah saya menulis surat — dan
sebenarnya saya yang menuliskannya— kepada Ubaidillah bin Abu Bakrah yang menjadi hakim di negeri Sajastan sebagai berikut, 'Hai Ubaidillah, janganlah kamu menetapkan suatu hukum di antara dua orang sedangkan kamu dalam keadaan marah. Sebab aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah seseorang menetapkan hukum di antara dua orang yang bersengketa, sedangkan ia dalam keadaan marah"."'' {Muslim 5/132}