2/3/17

Perintah untuk Menjamu Tamu

عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ الْخُزَاعِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ وَجَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ وَلَا يَحِلُّ لِرَجُلٍ مُسْلِمٍ أَنْ يُقِيمَ عِنْدَ أَخِيهِ حَتَّى يُؤْثِمَهُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يُؤْثِمُهُ قَالَ يُقِيمُ عِنْدَهُ وَلَا شَيْءَ لَهُ يَقْرِيهِ بِهِ
Dari Abu Syuraih Al Khuza'i RA, dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Batas (toleransi)
menjamu tamu itu tiga hari lamanya, sementara yang dianjurkan adalah satu hari satu malam. Tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk menetap dan tinggal di rumah saudaranya muslim sehingga menyebabkannya berdosa.' Para sahabat bertanya, 'Ya Rasulullah, bagaimana mungkin ia dapat mengakibatkan saudaranya sesama muslim berdosa?' Rasulullah menjawab, "Dia menetap dan tinggal di rumah saudaranya, sementara saudaranya tersebut tidak memiliki sesuatu untuk menjamunya'' {Muslim 5/138}