2/6/17

Mengutamakan Tamu

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي مَجْهُودٌ فَأَرْسَلَ إِلَى بَعْضِ نِسَائِهِ فَقَالَتْ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا عِنْدِي إِلَّا مَاءٌ ثُمَّ أَرْسَلَ إِلَى أُخْرَى فَقَالَتْ مِثْلَ ذَلِكَ حَتَّى قُلْنَ كُلُّهُنَّ مِثْلَ ذَلِكَ لَا وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا عِنْدِي إِلَّا مَاءٌ فَقَالَ مَنْ يُضِيفُ هَذَا اللَّيْلَةَ رَحِمَهُ اللَّهُ فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَقَالَ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَانْطَلَقَ بِهِ إِلَى رَحْلِهِ فَقَالَ لِامْرَأَتِهِ هَلْ عِنْدَكِ شَيْءٌ قَالَتْ لَا إِلَّا قُوتُ صِبْيَانِي قَالَ فَعَلِّلِيهِمْ بِشَيْءٍ فَإِذَا دَخَلَ ضَيْفُنَا فَأَطْفِئْ السِّرَاجَ وَأَرِيهِ أَنَّا نَأْكُلُ فَإِذَا أَهْوَى لِيَأْكُلَ فَقُومِي إِلَى السِّرَاجِ حَتَّى تُطْفِئِيهِ قَالَ فَقَعَدُوا وَأَكَلَ الضَّيْفُ فَلَمَّا أَصْبَحَ غَدَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ قَدْ عَجِبَ اللَّهُ مِنْ صَنِيعِكُمَا بِضَيْفِكُمَا اللَّيْلَةَ
Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, "Pada suatu hari, ada seorang lelaki Arab badui datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata, 'Ya Rasulullah, sungguh saya sangat menderita.' Lalu Rasulullah
pergi kepada salah seorang istri beliau untuk menanyakan makanan yang ada. Tetapi, ia malah berkata, "Demi Dzat yang telah mengutus Anda dengan membawa kebenaran, sungguh saya hanya mempunyai air." Kemudian Rasulullah pergi kepada istri beliau yang lain untuk menanyakan pertanyaan yang sama. Tetapi, beliau malah mendapat jawaban yang sama seperti yang pertama. Hingga dapat dikatakan bahwa semua istri beliau memberikan jawaban yang sama, yaitu: 'Demi Dzat yang telah mengutus Anda dengan membawa kebenaran, sungguh saya tidak mempunyai apa-apa selain air!" Akhirnya, Rasulullah pun berkata di hadapan para sahabatnya yang lain, "Siapakah di antara kalian yang bersedia menjamu lelaki ini, semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya." Seorang sahabat Anshar berdiri dan berkata, "Saya ya Rasulullah." Kemudian sahabat Anshar itu mengajak lelaki tersebut ke rumahnya seraya bertanya kepada istrinya, "Wahai isteriku, apakah kamu mempunyai makanan untuk tamu kita kali ini?" Istrinya menjawab, "Tidak, kita tidak mempunyai makanan lagi kecuali makanan untuk anak-anak kita." Sahabat Anshar itu berkata, "Alihkanlah perhatian anak-anak kita kepada sesuatu!. Nanti, apabila tamu kita masuk, maka padamkanlah lampu dan berbuatlah seolah-olah kita sedang makan. Apabila ia hendak makan, maka hampirilah lampu dan matikanlah!"Lalu, mereka pun duduk bersama, sementara tamu mereka makan dengan tenangnya. Esok harinya, ketika sahabat Anshar itu bertemu dengan Rasulullah, beliau pun berkata kepadanya, "Allah benar-benar kagum atas perbuatan kalian berdua terhadap tamu kalian tadi malam." {Muslim 6/127}