2/21/17

Membonceng Perempuan Mahram

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ قَالَتْ تَزَوَّجَنِي الزُّبَيْرُ وَمَا لَهُ فِي الْأَرْضِ مِنْ مَالٍ وَلَا مَمْلُوكٍ وَلَا شَيْءٍ غَيْرَ فَرَسِهِ قَالَتْ فَكُنْتُ أَعْلِفُ فَرَسَهُ وَأَكْفِيهِ مَئُونَتَهُ وَأَسُوسُهُ وَأَدُقُّ النَّوَى لِنَاضِحِهِ وَأَعْلِفُهُ وَأَسْتَقِي الْمَاءَ وَأَخْرُزُ غَرْبَهُ وَأَعْجِنُ وَلَمْ أَكُنْ أُحْسِنُ أَخْبِزُ وَكَانَ يَخْبِزُ لِي جَارَاتٌ مِنْ الْأَنْصَارِ وَكُنَّ نِسْوَةَ صِدْقٍ قَالَتْ وَكُنْتُ أَنْقُلُ النَّوَى مِنْ أَرْضِ الزُّبَيْرِ الَّتِي أَقْطَعَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَأْسِي وَهِيَ عَلَى ثُلُثَيْ فَرْسَخٍ قَالَتْ فَجِئْتُ يَوْمًا وَالنَّوَى عَلَى رَأْسِي فَلَقِيتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَهُ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِهِ فَدَعَانِي ثُمَّ قَالَ إِخْ إِخْ لِيَحْمِلَنِي خَلْفَهُ قَالَتْ فَاسْتَحْيَيْتُ وَعَرَفْتُ غَيْرَتَكَ فَقَالَ وَاللَّهِ لَحَمْلُكِ النَّوَى عَلَى رَأْسِكِ أَشَدُّ مِنْ رُكُوبِكِ مَعَهُ قَالَتْ حَتَّى أَرْسَلَ إِلَيَّ أَبُو بَكْرٍ بَعْدَ ذَلِكَ بِخَادِمٍ فَكَفَتْنِي سِيَاسَةَ الْفَرَسِ فَكَأَنَّمَا أَعْتَقَتْنِي
Dari Asma' binti Abu Bakar RA, dia berkata, "Saya menikah dengan Zubair yang tidak memiliki
harta dan pelayan kecuali seekor kuda. Oleh karena itu, sayalah yang memberi makan kuda, merawat dan melatihnya. Selain itu, saya pula yang menumbuk biji kurma untuk makan, mengurus makanan dan minuman, menjahit dan memasak. Hanya saja saya tidak pandai membuat roti. Maka tidaklah mengherankan apabila para tetangga, orang-orang Anshar, sering membuatkan roti untuk saya. Mereka adalah orang-orang yang baik.Saya juga sering menjunjung buah kurma di atas kepala dari kebun yang dijatahkan Rasulullah SAW kepada Zubair sejauh dua pertiga farsakh. Pada suatu hari, saya pulang dengan menjunjung buah kurma di atas kepala. Kemudian saya bertemu Rasulullah SAW beserta beberapa orang sahabat beliau. Lalu Rasulullah memanggil saya seraya berucap 'ikh-ikh' {menyuruh untanya berlutut} untuk membonceng di belakang beliau." Setelah itu Asma" berkata {ketika bercerita kepada suaminya}, "Sebenarnya saya merasa malu dan mengerti bahwasanya kamu adalah pencemburu." Suaminya, Zubair, berkata, "Demi Allah, sungguh bebanmu menjunjung buah kurma di atas kepalamu adalah lebih berat daripada kamu naik unta bersama Rasulullah SAW." Asma berkata, "Setelah peristiwa itu, Abu Bakar RA, ayah saya, mengirimkan seorang pelayan sehingga saya tidak lagi turut mengurus kuda dan saya terbebas dari kerja berat." {Muslim 7/11-12}