2/6/17

Larangan Membuat Nabidz (minuman yang direndam) dalam Labu Kering dan Wadah yang Dicat dengan Ter

عن زَاذَان: قَالَ قُلْتُ لِابْنِ عُمَرَ حَدِّثْنِي بِمَا نَهَى عَنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْأَشْرِبَةِ بِلُغَتِكَ وَفَسِّرْهُ لِي بِلُغَتِنَا فَإِنَّ لَكُمْ لُغَةً سِوَى لُغَتِنَا فَقَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْحَنْتَمِ وَهِيَ الْجَرَّةُ وَعَنْ الدُّبَّاءِ وَهِيَ الْقَرْعَةُ وَعَنْ الْمُزَفَّتِ وَهُوَ الْمُقَيَّرُ وَعَنْ النَّقِيرِ وَهِيَ النَّخْلَةُ تُنْسَحُ نَسْحًا وَتُنْقَرُ نَقْرًا وَأَمَرَ أَنْ يُنْتَبَذَ فِي الْأَسْقِيَةِ
Dari Zadzan, dia berkata, "Saya bertanya kepada Ibnu Umar, "Hai Abdullah, terangkanlah kepada kami tentang minuman yang dilarang oleh Rasullah SAW dengan bahasamu dan terangkanlah
kepada kami dengan bahasa kami, karena, sepertinya, bahasa kalian berbeda dengan bahasa kami." Ibnu Umar berkata, "Rasulullah SAW melarang tempayan atau guci, dubbaa' atau kulit labu, muzaffat atau wadah yang dicat dengan ter, dan naqier yaitu pohon kurma yang dikupas kulitnya dan dilubangi. Selain itu, beliau juga menganjurkan untuk membuat nabidz dalam geriba (tempat minum dari kulit)." (Muslim 6/97)