1/21/17

Menyetubuhi Tawanan yang Hamil

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ أَتَى بِامْرَأَةٍ مُجِحٍّ عَلَى بَابِ فُسْطَاطٍ فَقَالَ لَعَلَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُلِمَّ بِهَا فَقَالُوا نَعَمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَلْعَنَهُ لَعْنًا يَدْخُلُ مَعَهُ قَبْرَهُ كَيْفَ يُوَرِّثُهُ وَهُوَ لَا يَحِلُّ لَهُ كَيْفَ يَسْتَخْدِمُهُ وَهُوَ لَا يَحِلُّ لَهُ
Dari Abu Darda' RA, dari Nabi SAW, bahwasanya beliau mendatangi seorang tawanan yang sedang
hamil tua di pintu Fusthath, lalu beliau bertanya, 'Mungkin tuannya ingin menyetubuhinya?' Para sahabat menjawab, 'Ya.' Rasulullah SAW bersabda, 'Sesungguhnya aku ingin melaknatnya hingga laknat tersebut dibawanya ke kubur. Bagaimana ia menjadikan anaknya (dalam kandungan wanita tahanan) sebagai ahli waris sedangkan ia tidak berhak atas anak itu? Bagaimana ia menjadikan anak itu sebagai budaknya sedangkan ia tidak berhak atas anak itu?." {Muslim: 4/161}
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ حُنَيْنٍ بَعَثَ جَيْشًا إِلَى أَوْطَاسَ فَلَقُوا عَدُوًّا فَقَاتَلُوهُمْ فَظَهَرُوا عَلَيْهِمْ وَأَصَابُوا لَهُمْ سَبَايَا فَكَأَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَحَرَّجُوا مِنْ غِشْيَانِهِنَّ مِنْ أَجْلِ أَزْوَاجِهِنَّ مِنْ الْمُشْرِكِينَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي ذَلِكَ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنْ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ أَيْ فَهُنَّ لَكُمْ حَلَالٌ إِذَا انْقَضَتْ عِدَّتُهُنَّ
Dari Abu Sa'id Al Khudri RA, bahwa Rasulullah SAW pernah mengirim pasukan ke Authas pada perang Hunain, kemudian mereka bertemu musuh lalu bertempur sehingga mereka mengalahkan musuh itu. Mereka mendapatkan tawanan yang banyak. Sepertinya para sahabat Rasulullah SAW merasa enggan untuk menyetubuhi para tawanan perempuan lantaran mereka mempunyai suami dari kalangan orang musyrik. Kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat yang berkaitan dengan hal tersebut (yang artinya), "Diharamkan bagimu mengawini wanita yang sudah bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki." (Qs. An-Nisaa'(4): 24). Yakni, budak-budak perempuan tersebut boleh kamu setubuhi setelah iddah mereka berakhir. {Muslim 4/170}