1/19/17

Menjadikan Madinah Sebagai Tanah Haram, Termasuk Binatang Buruannya dan Pepohonannya, Juga Tentang Mendoakan Madinah

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَاصِمٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَدَعَا لِأَهْلِهَا وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ كَمَا حَرَّمَ إِبْرَاهِيمُ مَكَّةَ وَإِنِّي دَعَوْتُ فِي صَاعِهَا وَمُدِّهَا بِمِثْلَيْ مَا دَعَا بِهِ إِبْرَاهِيمُ لِأَهْلِ مَكَّةَ
Dari Abdullah bin Zaid bin Ashim RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Ibrahim
telah menjadikan Makkah sebagai tanah haram dan berdoa untuk kemakmuran penduduk Makkah, sedangkan aku telah menjadikan Madinah sebagai tanah haram sebagaimana Ibrahim telah menjadikan Makkah sebagai tanah haram, dan aku juga telah berdoa agar penduduk Madinah diberi kemakmuran pada sha' dan mudnya, sebagaimana dua hal tersebut yang telah didoakan Ibrahim untuk penduduk Makkah." {Muslim 4/112}
عن سَعْدٍ بن أَبِي وقاص قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي أُحَرِّمُ مَا بَيْنَ لَابَتَيْ الْمَدِينَةِ أَنْ يُقْطَعَ عِضَاهُهَا أَوْ يُقْتَلَ صَيْدُهَا وَقَالَ الْمَدِينَةُ خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ لَا يَدَعُهَا أَحَدٌ رَغْبَةً عَنْهَا إِلَّا أَبْدَلَ اللَّهُ فِيهَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ وَلَا يَثْبُتُ أَحَدٌ عَلَى لَأْوَائِهَا وَجَهْدِهَا إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Dari Sa'd bin Abi Waqqash RA, dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Sesungguhnya aku menjadikan Madinah sebagai tanah haram di antara dua bukitnya yang berbatu hitam. Tidak boleh dipotong (ditebang) pohon-pohon dan tidak boleh dibunuh binatang buruannya' Beliau bersabda, 'Seandainya mereka mengerti, Madinah itu lebih baik bagi mereka. Tidak lah ada seseorang yang meninggalkan Madinah karena tidak senang, melainkan Allah akan mendatangkan ke Madinah pengganti yang lebih baik dari pada orang tersebut, dan tidaklah seseorang bertahan tinggal di Madinah dengan mengalami kesulitan hidup melainkan aku akan menjadi penolongnya (atau saksinya) kelak pada hari kiamat?" {Muslim 4/113}
عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ أَنَّ سَعْدًا رَكِبَ إِلَى قَصْرِهِ بِالْعَقِيقِ فَوَجَدَ عَبْدًا يَقْطَعُ شَجَرًا أَوْ يَخْبِطُهُ فَسَلَبَهُ فَلَمَّا رَجَعَ سَعْدٌ جَاءَهُ أَهْلُ الْعَبْدِ فَكَلَّمُوهُ أَنْ يَرُدَّ عَلَى غُلَامِهِمْ أَوْ عَلَيْهِمْ مَا أَخَذَ مِنْ غُلَامِهِمْ فَقَالَ مَعَاذَ اللَّهِ أَنْ أَرُدَّ شَيْئًا نَفَّلَنِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَى أَنْ يَرُدَّ عَلَيْهِمْ
Dari Amir bin Sa'ad, bahwa Sa'ad RA pernah berkendaraan menuju istananya (di Al Aqiq), tiba-tiba dia melihat seorang budak laki-laki sedang memotong atau merubuhkan pohon, lalu Sa'ad menangkapnya dan (melucuti semua miliknya kecuali yang dipakai untuk menutupi dirinya). Ketika pulang dia didatangi oleh keluarga budak tersebut, kemudian mereka meminta agar Sa'ad mengembalikan semua milik budak yang ditangkapnya tersebut kepada budak tersebut atau kepada mereka. Lalu Sa'ad berkata, "Semoga Allah menjauhkan aku untuk mengembalikan sesuatu yang diperintahkan kepadaku oleh Rasulullah SAW." Sa'ad menolak untuk mengembalikannya kepada mereka. {Muslim 4/113}.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ اجْعَلْ بِالْمَدِينَةِ ضِعْفَيْ مَا بِمَكَّةَ مِنْ الْبَرَكَةِ
Diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA, dia berkata, "Rasulullah SAW pernah berdoa, 'Ya Allah! Berikanlah keberkahan di Madinah dua kali lipat keberkahan di Makkah" {Muslim 4/115}
عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ خَطَبَنَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ فَقَالَ مَنْ زَعَمَ أَنَّ عِنْدَنَا شَيْئًا نَقْرَؤُهُ إِلَّا كِتَابَ اللَّهِ وَهَذِهِ الصَّحِيفَةَ قَالَ وَصَحِيفَةٌ مُعَلَّقَةٌ فِي قِرَابِ سَيْفِهِ فَقَدْ كَذَبَ فِيهَا أَسْنَانُ الْإِبِلِ وَأَشْيَاءُ مِنْ الْجِرَاحَاتِ وَفِيهَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةُ حَرَمٌ مَا بَيْنَ عَيْرٍ إِلَى ثَوْرٍ فَمَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَرْفًا وَلَا عَدْلًا وَذِمَّةُ الْمُسْلِمِينَ وَاحِدَةٌ يَسْعَى بِهَا أَدْنَاهُمْ وَمَنْ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوْ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيهِ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَرْفًا وَلَا عَدْلًا
Dari Ibrahim At-Taimi, dari ayahnya, dia berkata, "Ali bin Abu Thalib RA pernah berkhutbah di hadapan kami, lalu dia berkata, 'Barang siapa yang mengatakan bahwa kami memiliki sesuatu yang kami baca selain kitab Allah dan lembaran ini (kata ayah Ibrahim, lembaran yang digantungkan di sarung pedangnya), maka sungguh dia pendusta," Di dalamnya juga tertulis unta dan hewan-hewan sembelihan lain (sebagai diyat). Juga tertulis bahwa Nabi SAW bersabda mengenai Madinah, "Madinah adalah tanah haram antara wilayah 'Ir hingga Tsaur. Jadi barang siapa berbuat pelanggaran di Madinah atau melindungi orang yang berbuat pelanggaran, maka dia mendapat kutukan Allah, kutukan para malaikat dan semua manusia serta Allah tidak menerima tebusan orang tersebut kelak pada hari kiamat. Jaminan perlindungan umat Islam itu hanya satu, mereka yang lebih dekat (kepada Allah dan Rasul-Nya) berupaya untuk mendapatkan jaminan perlindungan tersebut. Barang siapa mengakui orang lain yang bukan bapaknya sebagai bapaknya, maka dia mendapat laknat Allah, laknat para malaikat dan laknat semua umat manusia, serta Allah tidak menerima tebusan orang tersebut kelak pada hari kiamat." {Muslim 4/115}
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُؤْتَى بِأَوَّلِ الثَّمَرِ فَيَقُولُ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا وَفِي ثِمَارِنَا وَفِي مُدِّنَا وَفِي صَاعِنَا بَرَكَةً مَعَ بَرَكَةٍ ثُمَّ يُعْطِيهِ أَصْغَرَ مَنْ يَحْضُرُهُ مِنْ الْوِلْدَانِ
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW pernah diberi buah-buahan hasil panen yang pertama, lalu beliau berdoa, "Ya Allah! Berikanlah kepada kami di Madinah kami ini, buah-buahan kami, Mud dan Sha' kami keberkahan yang tak pernah berhenti!" Setelah itu beliau memberikan buah tersebut kepada anak yang paling kecil di antara sekian anak yang hadir di situ. {Muslim 4/117}