1/16/17

Firman Allah, "Mereka bertanya kepadamu tentang haid"

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ الْيَهُودَ كَانُوا إِذَا حَاضَتْ الْمَرْأَةُ فِيهِمْ لَمْ يُؤَاكِلُوهَا وَلَمْ يُجَامِعُوهُنَّ فِي الْبُيُوتِ فَسَأَلَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ إِلَى آخِرِ الْآيَةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا النِّكَاحَ فَبَلَغَ ذَلِكَ الْيَهُودَ فَقَالُوا مَا يُرِيدُ هَذَا الرَّجُلُ أَنْ يَدَعَ مِنْ أَمْرِنَا شَيْئًا إِلَّا خَالَفَنَا فِيهِ فَجَاءَ أُسَيْدُ بْنُ حُضَيْرٍ وَعَبَّادُ بْنُ بِشْرٍ فَقَالَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْيَهُودَ تَقُولُ كَذَا وَكَذَا فَلَا نُجَامِعُهُنَّ فَتَغَيَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنْ قَدْ وَجَدَ عَلَيْهِمَا فَخَرَجَا فَاسْتَقْبَلَهُمَا هَدِيَّةٌ مِنْ لَبَنٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَرْسَلَ فِي آثَارِهِمَا فَسَقَاهُمَا فَعَرَفَا أَنْ لَمْ يَجِدْ عَلَيْهِمَا

Dari Anas RA, bahwasanya orang-orang Yahudi tidak makan bersama perempuan mereka yang sedang haid, dan juga mereka tidak tinggal dalam satu rumah, maka para sahabat bertanya kepada Nabi SAW. Lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat {yang artinya}, "Mereka bertanya kepadamu tentang haid, katakanlah 'Haid itu kotor, maka jauhilah para wanita itu selama masa haid... {Qs. Al Baqarah {2}: 222} Kemudian Rasulullah SAW bersabda, "Lakukanlah apa saja kecuali hubungan intim." Berita tersebut kemudian terdengar oleh orang-orang Yahudi, maka mereka berkata, "Orang ini {Nabi SAW} sebenarnya tidak ingin meninggalkan ajaran kita kecuali hanya ingin berbeda saja." Maka datanglah Usaid bin Al Hudair dan Abbad bin Bisyr, keduanya berkata, "Ya Rasulullah! Sesungguhnya orang-orang Yahudi mengatakan begini dan begitu, apakah tidak sebaiknya kita gauli saja wanita-wanita yang sedang haid?" Wajah Rasulullah SAW berubah, hingga kami menyangka bahwa beliau marah kepada keduanya, lalu keduanya pergi. Kemudian keduanya mengirimkan hadiah susu kepada Rasulullah. Lalu Nabi SAW menyuruh seseorang untuk menyusul keduanya agar diberi susu. Dengan demikian keduanya mengerti bahwa Rasulullah tidak marah kepada mereka." {Muslim 1/169}