1/16/17

Cara Mandi Perempuan yang Haid dan Junub

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ أَسْمَاءَ سَأَلَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ غُسْلِ الْمَحِيضِ فَقَالَ تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءَهَا وَسِدْرَتَهَا فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ دَلْكًا شَدِيدًا حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيْهَا الْمَاءَ ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتَطَهَّرُ بِهَا فَقَالَتْ أَسْمَاءُ وَكَيْفَ تَطَهَّرُ بِهَا فَقَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ تَطَهَّرِينَ بِهَا فَقَالَتْ عَائِشَةُ كَأَنَّهَا تُخْفِي ذَلِكَ تَتَبَّعِينَ أَثَرَ الدَّمِ وَسَأَلَتْهُ عَنْ غُسْلِ الْجَنَابَةِ فَقَالَ تَأْخُذُ مَاءً فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ أَوْ تُبْلِغُ الطُّهُورَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تُفِيضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ فَقَالَتْ عَائِشَةُ نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ الْأَنْصَارِ لَمْ يَكُنْ يَمْنَعُهُنَّ الْحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِي الدِّينِ

Dari Aisyah RA, bahwa Asma' RA pernah bertanya kepada Nabi SAW tentang wanita mandi dari haid, kemudian beliau menjawab, "Hendaknya perempuan tersebut mempersiapkan air dan daun bidara, lalu membersihkan diri sebaik-baiknya dan menuangkan air pada kepalanya, kemudian menggosok seluruh badannya hingga pangkal rambut kepalanya, lalu menuangkan lagi air pada kepalanya. Setelah itu mengambil firshah yang diberi minyak wangi, lalu bersuci dengan firshah tersebut" Asma' bertanya, "Bagaimana saya bersuci dengan firshah itu?" Nabi SAW menjawab, "Subhanallah! Ya kamu pakai firshah itu untuk bersuci" Aisyah berkata,{sepertinya ia merahasiakan hal tersebut}. "Kamu gunakan kapas itu untuk membersihkan bekas darah!" Kemudian Asma bertanya kepada Nabi SAW tentang mandi junub, Nabi SAW menjawab, "Hendaknya engkau mengambil air lalu bersihkan diri sebaik-baiknya, kemudian tuangkan air pada kepala dengan menggosok sampai pangkal rambut kepala, selanjutnya tuangkan air lagi dari atas kepala" Aisyah berkata, "Sebaik-baiknya wanita adalah wanita kaum Anshar yang tidak terhalang oleh rasa malu untuk memahami agama." {Muslim 1/179-180}