3/13/17

Fitnah Dihadapkan Kepada Hati dan Disertai Bintik yang Membekas padanya

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ كُنَّا عِنْدَ عُمَرَ فَقَالَ أَيُّكُمْ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ الْفِتَنَ فَقَالَ قَوْمٌ نَحْنُ سَمِعْنَاهُ فَقَالَ لَعَلَّكُمْ تَعْنُونَ فِتْنَةَ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَجَارِهِ قَالُوا أَجَلْ قَالَ تِلْكَ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَلَكِنْ أَيُّكُمْ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ الْفِتَنَ الَّتِي تَمُوجُ مَوْجَ الْبَحْرِ قَالَ حُذَيْفَةُ فَأَسْكَتَ الْقَوْمُ فَقُلْتُ أَنَا قَالَ أَنْتَ لِلَّهِ أَبُوكَ قَالَ حُذَيْفَةُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتْ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ قَالَ حُذَيْفَةُ وَحَدَّثْتُهُ أَنَّ بَيْنَكَ وَبَيْنَهَا بَابًا مُغْلَقًا يُوشِكُ أَنْ يُكْسَرَ قَالَ عُمَرُ أَكَسْرًا لَا أَبَا لَكَ فَلَوْ أَنَّهُ فُتِحَ لَعَلَّهُ كَانَ يُعَادُ قُلْتُ لَا بَلْ يُكْسَرُ وَحَدَّثْتُهُ أَنَّ ذَلِكَ الْبَابَ رَجُلٌ يُقْتَلُ أَوْ يَمُوتُ حَدِيثًا لَيْسَ بِالْأَغَالِيطِ قَالَ أَبُو خَالِدٍ فَقُلْتُ لِسَعْدٍ يَا أَبَا مَالِكٍ مَا أَسْوَدُ مُرْبَادًّا قَالَ شِدَّةُ الْبَيَاضِ فِي سَوَادٍ قَالَ قُلْتُ فَمَا الْكُوزُ مُجَخِّيًا قَالَ مَنْكُوسًا
Dari Hudzaifah RA, dia berkata, "Pada suatu hari, kami sedang berada di dekat Umar RA. Setelah
itu, ia berkata, 'Siapakah diantara kalian yang pernah mendengar Rasulullah SAW menerangkan tentang bencana?' Beberapa orang sahabat menjawab, "Kami pernah mendengar beliau menerangkan tentang hal itu." Umar berkata, "Mungkin yang kalian maksudkan adalah bencana yang tengah dihadapi seseorang dalam urusan keluarga, harta, dan tetangganya." Para sahabat menjawab, "Ya benar." Umar berkata, "Sesungguhnya bencana tersebut dapat terhapus oleh shalat, puasa, dan zakat. Tetapi yang aku maksudkan adalah, 'Siapakah di antara kalian yang pernah mendengar Rasulullah SAW menerangkan tentang bencana yang bergejolak seperti ombak lautan.' Hudzaifah berkata, "Mendengar penuturan Umar itu, para sahabat terdiam. Setelah itu, saya berkata, 'Sayalah orang yang pernah mendengar hal itu dari Rasulullah ya Umar.' Umar berkata, "Beruntunglah ayahmu." Hudzaifah berkata, "Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Berbagai bencana dan ujian akan dihadapkan kepada hati seperti tikar yang ditusuk-tusuk dengan batang kayu. Hati yang tergoyahkan oleh bencana tersebut akan ditempeli oleh bintik hitam dan hati yang tidak tergoda oleh bencana itu akan ditempeli oleh bintik putih hingga akan ada dua macam hati: 1}. Hati yang putih bersih yang tidak terpengaruh oleh bencana selama masih ada langit dan bumi. 2}. Hati yang hitam legam seperti cangkir cubung yang miring, tidak dapat mengetahui kebaikan dan tidak menolak kemungkaran, kecuali hanya menurutkan hawa nafsunya. Hudzaifah berkata, "Lalu saya ceritakan kepada Umar bahwa antara kamu dan bencana tersebut terdapat pintu terkunci yang hampir rusak." Umar bertanya, "Mengapa sesuatu yang rusak saja dipersoalkan? Seandainya pintu tersebut dibuka, mungkin dapat ditutup kembali." Saya katakan kepada Umar, "Tidak bisa. Tetap saja akan rusak." Saya katakan kepada Umar bahwa yang dimaksud dengan pintu itu adalah orang yang terbunuh atau orang yang mati. "Ucapan saya itu tidak akan salah." Abu Khalid berkata, "Saya bertanya kepada Said, 'Hai Abu Malik, apa yang dimaksudkan dengan kata aswadu murbaadan dalam hadits tersebut?' Said menjawab, "Warna sangat putih di tengah warna hitam." Khalid berkata, "Saya bertanya lagi, 'Apakah maksud dari lafadz Al Kuuz mujakhkhiyan pada hadits itu?' Said menjawab, "Yaitu cangkir jubung yang terjungkir." {Muslim 1/89-90}