3/13/17

Firman Allah, "Dan Jika Seorang Isteri Khawatir Akan Nusyuz Atau Sikap Tidak Peduli Dari Suaminya, Maka Tidak Mengapa Bagi Keduanya Mengadakan Perdamaian Yang Sebenar-Benarnya." (Qs. An-Nisaa(4): 128)

عَنْ عَائِشَةَ فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنْ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا قَالَتْ نَزَلَتْ فِي الْمَرْأَةِ تَكُونُ عِنْدَ الرَّجُلِ فَلَعَلَّهُ أَنْ لَا يَسْتَكْثِرَ مِنْهَا وَتَكُونُ لَهَا صُحْبَةٌ وَوَلَدٌ فَتَكْرَهُ أَنْ يُفَارِقَهَا فَتَقُولُ لَهُ أَنْتَ فِي حِلٍّ مِنْ شَأْنِي
Dari Aisyah RA tentang firman Allah, "Dan jika seorang istri khawatir akan nusyuz atau sikap tidak
peduli dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya" Aisyah RA berkata, "Ayat tersebut berkisah tentang seorang perempuan yang menjadi istri seorang laki-laki yang tidak ingin bertambah bebannya karena keberadaan istrinya. Oleh karena itu, laki-laki tersebut tidak memperdulikan keberadaan istrinya. Namun uniknya, sang istri tetap bersikap berbaik hati kepada suaminya itu hingga ia memiliki seorang anak. Akhirnya sang istri pun tidak ingin diceraikan suaminya seraya berkata, "Wahai suamiku, aku rela dengan segala perlakuanmu kepadaku." (Muslim 8/241)