Dari Usamah bin Zaid RA, dari Rasulullah SAW bahwasanya beliau bersabda, "Sesungguhnya penyakit {wabah} ini adalah azab yang pernah ditimpakan kepada orang-orang sebelum kalian.
Setelah itu, wabah tersebut tetap berada di bumi. Suatu saat ia akan menghilang dan akan datang. Barang siapa di antara kalian mengetahui bahwa di suatu wilayah sedang terjangkit suatu wabah penyakit, maka janganlah ia datang ke sana. Sebaliknya, barang siapa di antara kalian sedang berada di wilayah yang terkena wabah, maka janganlah ia pindah dari wilayah tersebut {agar wabah itu tidak menjalar dan menyebar ke wilayah lain}." {Muslim 7/28}
|
| Dari Abdullah bin Abbas RA, bahwasanya Umar bin Khaththab pernah pergi ke negeri Syam. Setibanya di kota Sargha {sebuah kampung di pinggiran negeri Syam dekat wilayah Hijaz}, ia disambut oleh para pemimpin pasukan, antara lain Abu Ubaidah bin Jarrah dan teman-temannya. Setelah itu mereka memberitahukan Umar bahwasanya wabah penyakit telah berjangkit di negeri Syam. Ibnu Abbas berkata, "Maka Umar pun berkata, 'Panggillah para sahabat Muhajirin kelompok awal kemari!' Lalu saya pun memanggil mereka dan Umar pun meminta pendapat mereka. Umar memberitahukan kepada mereka bahwasanya wabah penyakit telah berjangkit di negeri Syam. Lalu mereka pun saling berbeda pendapat. Sebagian di antara mereka berkata, "Hai Umar, engkau telah keluar untuk melaksanakan tugas agama. Maka menurut hemat kami engkau tidak perlu menarik pasukan pulang." Namun sebagian lagi berkata, "Hai Umar, engkau membawa sejumlah pasukan dan para sahabat Rasulullah. Oleh karena itu, menurut pendapat kami sebaiknya engkau tidak perlu menyerahkan mereka kepada wabah penyakit tersebut." Akhirnya Umar RA berkata, "Kalau begitu, kalian boleh pergi semua." Lalu Umar berkata lagi, "Panggilah para sahabat Anshar kemari!" Ibnu Abbas berkata, "Maka saya pun memanggil mereka." Tak lama kemudian, Umar meminta pendapat mereka. Ternyata pendapat mereka tidak berbeda dengan pendapat para sahabat Muhajirin. Maka Umar pun berkata, "Baiklah, sekarang kalian boleh pergi.' Selanjutnya Umar bin Khaththab berkata, "Panggillah beberapa tokoh Quraisy yang ada di sini yang pernah berhijrah sebelum penaklukan kota Makkah!" Jabir berkata, "Lalu saya pun memanggil mereka. Ternyata dua orang di antara mereka tidak ada yang berbeda pendapatnya dengan para sahabat sebelumnya." Mereka berkata, "Menurut hemat kami, sebaiknya engkau tarik saja pasukan kaum muslimin kembali ke Madinah dan janganlah engkau hadapkan mereka dengan wabah penyakit." Setelah itu Umar RA berseru kepada pasukan kaum muslimin, "Besok pagi aku akan pulang ke Madinah. Oleh karena itu, pulanglah kalian semua!" Abu Ubaidah bin Jarrah berkata, "Mengapa kita harus lari dari ketentuan {qadar} Allah?" Umar menjawab, "Mengapa bukan orang selain kamu saja yang berkata seperti itu hai Abu Ubaidah?" {Sepertinya Umar tidak ingin berbeda pendapat dengan Abu Ubaidah} "Ya, kita lari dari qadar Allah menuju qadar Allah yang lain. Tahukah kamu jika seandainya kamu memiliki unta, lalu ia turun ke suatu lembah yang memiliki dua bagian, yang satu bagian subur sedangkan bagian yang lain tandus. Apabila kamu gembalakan untamu di bagian lembah yang subur, maka bukankah hal itu berarti kamu juga telah menggembalakannya berdasarkan qadar Allah? Sebaliknya, jika kamu menggembalakannya di bagian lembah yang tandus, maka bukankah hal itu berarti kamu juga telah menggembalakannya menurut qadar Allah?" Lalu Ibnu Abbas berkata, "Tak lama kemudian datanglah Abdurrahman bin Auf, yang sebelumnya tidak sedang berada di situ, untuk suatu keperluan. Lalu Abdurrahman berkata, 'Sesungguhnya saya mempunyai informasi mengenai hal itu. Saya pernah mendengar Rasulullah berkata, 'Apabila kamu sekalian mendengar ada wabah penyakit yang sedang berjangkit di suatu wilayah, maka janganlah kalian datang ke sana, dan apabila wabah tersebut telah berjangkit di wilayah yang kamu tempati, maka janganlah kalian keluar dari wilayah tersebut menuju wilayah lain." Ibnu Abbas berkata, "Lalu Umar bin Khaththab memuji Allah dan kemudian kembali pulang ke Madinah." {Muslim 7/29-30}
|