2/21/17

Orang Yahudi Menyihir Nabi Muhammad SAW

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَحَرَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَهُودِيٌّ مِنْ يَهُودِ بَنِي زُرَيْقٍ يُقَالُ لَهُ لَبِيدُ بْنُ الْأَعْصَمِ قَالَتْ حَتَّى كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَفْعَلُ الشَّيْءَ وَمَا يَفْعَلُهُ حَتَّى إِذَا كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ أَوْ ذَاتَ لَيْلَةٍ دَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ دَعَا ثُمَّ دَعَا ثُمَّ قَالَ يَا عَائِشَةُ أَشَعَرْتِ أَنَّ اللَّهَ أَفْتَانِي فِيمَا اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ جَاءَنِي رَجُلَانِ فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي وَالْآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ فَقَالَ الَّذِي عِنْدَ رَأْسِي لِلَّذِي عِنْدَ رِجْلَيَّ أَوْ الَّذِي عِنْدَ رِجْلَيَّ لِلَّذِي عِنْدَ رَأْسِي مَا وَجَعُ الرَّجُلِ قَالَ مَطْبُوبٌ قَالَ مَنْ طَبَّهُ قَالَ لَبِيدُ بْنُ الْأَعْصَمِ قَالَ فِي أَيِّ شَيْءٍ قَالَ فِي مُشْطٍ وَمُشَاطَةٍ قَالَ وَجُفِّ طَلْعَةِ ذَكَرٍ قَالَ فَأَيْنَ هُوَ قَالَ فِي بِئْرِ ذِي أَرْوَانَ قَالَتْ فَأَتَاهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أُنَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ ثُمَّ قَالَ يَا عَائِشَةُ وَاللَّهِ لَكَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعَةُ الْحِنَّاءِ وَلَكَأَنَّ نَخْلَهَا رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أَحْرَقْتَهُ قَالَ لَا أَمَّا أَنَا فَقَدْ عَافَانِي اللَّهُ وَكَرِهْتُ أَنْ أُثِيرَ عَلَى النَّاسِ شَرًّا فَأَمَرْتُ بِهَا فَدُفِنَتْ
Dari Aisyah RA, dia berkata, "Rasulullah SAW pernah menderita sakit karena disihir oleh seorang
Yahudi Bani Zuraiq yang bernama Labid bin Al A'sham. Aisyah berkata, "Sampai-sampai Rasulullah mengingau, seakan-akan beliau melakukan sesuatu, padahal hal itu tidak sama sekali dikerjakan." Rasulullah SAW berdoa, selalu berdoa dan terus berdoa. Hingga pada suatu ketika, Rasulullah SAW berkata kepada Aisyah, 'Hai Aisyah, tahukah kamu bahwasanya Allah telah memberitahukan kepadaku tentang apa yang aku mohonkan kepada-Nya?' Aku didatangi oleh dua orang lelaki; yang satu duduk di dekat kepalaku dan yang lain duduk di dekat kakiku. Orang yang ada di dekat kepalaku bertanya kepada orang yang ada di dekat kakiku {atau sebaliknya}, "Orang ini {yaitu Nabi Muhammad} sakit apa? " Temannya menjawab, "Ia terkena sihir/santet." Ia bertanya lagi, "Siapa yang menyihirnya? " Temannya menjawab, "Labid bin al-A'sham." Ia bertanya, "Dengan apa ia menyihir? " Temannya menjawab, "Dengan sisir, rambut, dan mayang kurma" Ia bertanya, "Di mana? " Temannya menjawab, "Di sumur Dzi Arwan." Aisyah berkata, "Maka Rasulullah SAW datang ke sumur itu bersama beberapa orang sahabat beliau seraya berkata, "Hai Aisyah, demi Allah air sumur itu berwarna kemerah-merahan dan pohon kurmanya bagaikan kepala syetan." Kata Aisyah: Lalu saya bertanya, "Ya Rasulullah, apakah engkau telah membakarnya?" Beliau menjawab, "Tidak. Yang terpenting, Allah telah menyembuhkanku. Aku tidak suka membalas kejahatan orang lain. Oleh karena itu, aku diperintahkan untuk menguburnya saja." Maka peralatan santet itu pun langsung di kubur {Muslim 7/14}

Catatan Syaikh Al-Albani: 
Ketahuilah bahwasanya hadits ini, tanpa diragukan lagi, sanadnya shahih. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim serta lainnya melalui berbagai jalan dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari Aisyah. Selain itu, hadits ini pun mempunyai syahid {bukti} dari hadits Zaid bin Arqam menurut Imam Ahmad {4/367} dengan sanad yang shahih dan Ibnu Sa'ad {2/2/6} dengan sanad yang lain tetapi juga shahih, diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas, Said bin Musayyab, dan Ikrimah. Sementara itu, Sayid Rasyid Ridha dan orang-orang yang sependapat dengannya, telah keliru ketika mereka menyatakan bahwasanya hadits ini lemah. Mereka malah menebarkan syubuhaat aqliah {keraguan rasionil} pada suatu masalah yang nyata {laksana fatamorgana pada suatu dataran yang disangka air oleh orang yang merasa kehausan}. Sebenarnya dalam hadits ini hanya menerangkan bahwasanya Rasulullah jatuh sakit dan dalam masa sakitnya itu beliau bermimpi mendatangi kaum wanita, tetapi sebenarnya tidak. Allah SWT tentunya selalu akan memelihara beliau dari kesalahan dalam masalah syariat, dan beliau juga adalah manusia biasanya yang dapat saja keliru, tetapi Allah akan tetap memeliharanya. Meskipun beliau terpelihara dari kesalahan, tetapi beliau adalah manusia biasa yang dapat terkena sihir, sebagaimana halnya Nabi Musa AS yang juga pernah terkena sihir, seperti disebutkan dalam Al Qur'an surat Thaha: 66 {...terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran ia terkena sihir}. Apakah peristiwa penyihiran itu dapat menurunkan posisi Musa? Tentunya tidak. Begitu pula halnya dengan peristiwa yang terjadi pada diri Nabi Muhammad, seperti yang diterangkan oleh hadits ini. Oleh karena itu, perhatikanlah dengan cermat hadits tersebut di atas!