2/21/17

Menjauhi Orang Yang Berpenyakit Menular

عَنْ الشَّرِيدِ قَالَ كَانَ فِي وَفْدِ ثَقِيفٍ رَجُلٌ مَجْذُومٌ فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّا قَدْ بَايَعْنَاكَ فَارْجِعْ
Dari Asy-Syarid RA, dia berkata, "Dalam rombongan utusan Bani Tsaqif terdapat seorang lelaki
yang menderita penyakit kusta. Setelah itu, Rasulullah SAW mengutus utusannya kepada orang tersebut untuk menyampaikan pesan Rasulullah bahwasanya, 'Kami telah menerima bai'atmu. Oleh karena itu, sekarang kamu dapat kembali."' {Muslim 7/37}

Catatan Syaikh Al-Albani: 
Komentar saya, "Ini merupakan bukti yang nyata dimana Rasulullah SAW melihat bahwa kusta itu adalah penyakit yang menular dan berbahaya. Oleh karena itu, beliau sengaja mencari cara yang tepat untuk mencegah terjangkitnya penyakit tersebut kepadanya dari orang yang menderita kusta. Hal ini, tentunya, bukan berarti menafikan arti tawakal kepada Allah, sebagaimana telah disinggung oleh Umar bin Khaththab pada hadits yang terdahulu {1485} di mana ia bertekad untuk tidak masuk ke wilayah yang terkena wabah penyakit menular. "Kami menghindar dari ketentuan {qadar} Allah dan beralih kepada ketentuan {qadar} Allah yang lain." Ironisnya, ada sebagian kaum muslimin yang menafsirkan hadits ini dengan tafsiran yang menyimpang. Mereka sering terjebak dengan hadits Jabir yang menyatakan bahwasanya Rasulullah SAW pernah makan bersama orang yang terkena penyakit kusta dan berkata, "Makanlah dengan menyebut nama Allah disertai penuh keyakinan dan tawakal kepada-Nya."