2/22/17

Keberkahan Nabi Muhammad pada Makanan

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَطْعِمُهُ فَأَطْعَمَهُ شَطْرَ وَسْقِ شَعِيرٍ فَمَا زَالَ الرَّجُلُ يَأْكُلُ مِنْهُ وَامْرَأَتُهُ وَضَيْفُهُمَا حَتَّى كَالَهُ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَوْ لَمْ تَكِلْهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ وَلَقَامَ لَكُمْ
Dari Jabir RA, bahwasanya ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW untuk meminta
makanan kepada beliau. Lalu Rasulullah memberinya setengah gantang gandum. Dengan demikian laki-laki itu dan isterinya senantiasa makan dengan mengambil sebagian dari gandum tersebut. Di samping itu, ia pun memberikan jamuan kepada tamunya juga dengan gandum itu {gandum itu tidak pernah habis}. Pada suatu ketika, laki-laki itu menakar gandum pemberian Rasulullah. Lalu Rasulullah datang kepadanya dan berkata, "Kalau saja kamu tidak menakar gandum itu, niscaya kamu akan senantiasa dapat memakannya tanpa berkurang sedikitpun." {Muslim 7/60}
عن جَابِر بْن عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ لَمَّا حُفِرَ الْخَنْدَقُ رَأَيْتُ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمَصًا فَانْكَفَأْتُ إِلَى امْرَأَتِي فَقُلْتُ لَهَا هَلْ عِنْدَكِ شَيْءٌ فَإِنِّي رَأَيْتُ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمَصًا شَدِيدًا فَأَخْرَجَتْ لِي جِرَابًا فِيهِ صَاعٌ مِنْ شَعِيرٍ وَلَنَا بُهَيْمَةٌ دَاجِنٌ قَالَ فَذَبَحْتُهَا وَطَحَنَتْ فَفَرَغَتْ إِلَى فَرَاغِي فَقَطَّعْتُهَا فِي بُرْمَتِهَا ثُمَّ وَلَّيْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ لَا تَفْضَحْنِي بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ مَعَهُ قَالَ فَجِئْتُهُ فَسَارَرْتُهُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا قَدْ ذَبَحْنَا بُهَيْمَةً لَنَا وَطَحَنَتْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ كَانَ عِنْدَنَا فَتَعَالَ أَنْتَ فِي نَفَرٍ مَعَكَ فَصَاحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَهْلَ الْخَنْدَقِ إِنَّ جَابِرًا قَدْ صَنَعَ لَكُمْ سُورًا فَحَيَّ هَلًا بِكُمْ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُنْزِلُنَّ بُرْمَتَكُمْ وَلَا تَخْبِزُنَّ عَجِينَتَكُمْ حَتَّى أَجِيءَ فَجِئْتُ وَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْدَمُ النَّاسَ حَتَّى جِئْتُ امْرَأَتِي فَقَالَتْ بِكَ وَبِكَ فَقُلْتُ قَدْ فَعَلْتُ الَّذِي قُلْتِ لِي فَأَخْرَجْتُ لَهُ عَجِينَتَنَا فَبَصَقَ فِيهَا وَبَارَكَ ثُمَّ عَمَدَ إِلَى بُرْمَتِنَا فَبَصَقَ فِيهَا وَبَارَكَ ثُمَّ قَالَ ادْعِي خَابِزَةً فَلْتَخْبِزْ مَعَكِ وَاقْدَحِي مِنْ بُرْمَتِكُمْ وَلَا تُنْزِلُوهَا وَهُمْ أَلْفٌ فَأُقْسِمُ بِاللَّهِ لَأَكَلُوا حَتَّى تَرَكُوهُ وَانْحَرَفُوا وَإِنَّ بُرْمَتَنَا لَتَغِطُّ كَمَا هِيَ وَإِنَّ عَجِينَتَنَا أَوْ كَمَا قَالَ الضَّحَّاكُ لَتُخْبَزُ كَمَا هُوَ
Dari Jabir bin Abdullah RA, dia berkata, "Ketika Khandaq digali {untuk persiapan perang Khandaq}, saya melihat Rasulullah SAW sangat lapar. Akhirnya saya segera pulang ke rumah untuk menemui istri saya dan berkata kepadanya, 'Apakah kamu mempunyai makanan? Sungguh saya melihat Rasulullah sangat lapar.' Kemudian istri saya mengambilkan saya satu kantong kulit berisi satu sha' gandum. Selain itu, kami mempunyai seekor anak domba yang jinak dan saya pun langsung menyembelihnya, sementara istri saya menumbuk gandum. Ketika saya telah selesai menyembelih, ia pun telah selesai menumbuk. Lalu saya memotong-motong sembelihan tersebut ke dalam periuk istri saya, dan setelah itu saya kembali menemui Rasulullah. Pada saat itu istri saya berkata, "Janganlah kamu tunjukkan keburukan saya kepada Rasulullah SAW dan orang-orang yang bersama dengan beliau!" Jabir berkata, "Saya datang menemui Rasulullah dan saya katakan kepada beliau dengan berbisik, 'Ya Rasulullah, kami baru saja menyembelih anak domba kami, sementara istri saya menumbuk gandum yang kami miliki. Oleh karena itu, mari silahkan engkau dan beberapa sahabat mencicipi makanan itu!' Kemudian Rasulullah pun berseru memanggil para sahabat, "Hai orang-orang yang ada di Khandaq, sesungguhnya Jabir telah membuat makanan untuk kalian. Oleh karena itu, datanglah semua!" Setelah itu Rasulullah berkata kepada Jabir, "Janganlah kamu turunkan periukmu dan jangan pula membuat roti dari adonan itu sebelum aku datang." Jabir berkata "Saya datang dan Rasulullah pun datang, mendahului para sahabat, lalu saya mendatangi istri saya." Istri saya berkata, "Apa pesan saya kepadamu?" Saya menjawab, "Saya telah melaksanakan apa yang telah kamu perintahkan kepada saya." Lalu saya serahkan adonan kami kepada Rasulullah dan beliau langsung meludahi adonan itu untuk memberi keberkahan. Setelah itu beliau berkata kepada istri saya, "Sekarang panggilah seorang wanita yang pandai membuat roti untuk membuat roti bersamamu dan menciduk isi periuk, tetapi janganlah kalian turunkan periuk itu!" Kala itu jumlah para sahabat yang turut bekerja membuat parit ada seribu. Demi Allah, mereka semua mendapatkan makan dan bahkan makanan masih tersisa. Ketika mereka bubar, isi periuk kami masih penuh seperti semula dan adonan kami {Dahhak berkata} masih tetap dapat untuk dibuat roti. {Muslim 6/117-118}
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثِينَ وَمِائَةً فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ مَعَ أَحَدٍ مِنْكُمْ طَعَامٌ فَإِذَا مَعَ رَجُلٍ صَاعٌ مِنْ طَعَامٍ أَوْ نَحْوُهُ فَعُجِنَ ثُمَّ جَاءَ رَجُلٌ مُشْرِكٌ مُشْعَانٌّ طَوِيلٌ بِغَنَمٍ يَسُوقُهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبَيْعٌ أَمْ عَطِيَّةٌ أَوْ قَالَ أَمْ هِبَةٌ فَقَالَ لَا بَلْ بَيْعٌ فَاشْتَرَى مِنْهُ شَاةً فَصُنِعَتْ وَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَوَادِ الْبَطْنِ أَنْ يُشْوَى قَالَ وَايْمُ اللَّهِ مَا مِنْ الثَّلَاثِينَ وَمِائَةٍ إِلَّا حَزَّ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حُزَّةً حُزَّةً مِنْ سَوَادِ بَطْنِهَا إِنْ كَانَ شَاهِدًا أَعْطَاهُ وَإِنْ كَانَ غَائِبًا خَبَأَ لَهُ قَالَ وَجَعَلَ قَصْعَتَيْنِ فَأَكَلْنَا مِنْهُمَا أَجْمَعُونَ وَشَبِعْنَا وَفَضَلَ فِي الْقَصْعَتَيْنِ فَحَمَلْتُهُ عَلَى الْبَعِيرِ أَوْ كَمَا قَالَ
Dari Abdurrahman bin Abu Bakar RA, dia berkata, "Kami, sejumlah seratus tiga puluh orang, sedang bersama Rasulullah SAW. Lalu beliau bertanya, 'Apakah salah seorang di antara kalian ada yang memiliki makanan?' Ternyata ada seorang sahabat yang membawa satu sha' makanan atau kurang lebih satu sha'. Lalu dibuatlah adonan. Tak lama kemudian, ada seorang musyrik yang tinggi, kurus, dan berambut kusut datang sambil mengiring kambing. Maka Rasulullah bertanya kepadanya, 'Apakah kambing ini dijual atau dihadiahkan?' Orang musyrik itu menjawab, "Kambing ini dijual." Akhirnya Rasulullah membeli kambing tersebut darinya, lalu disembelih dan beliau memerintahkan agar hati kambing itu dipanggang. Abdurrahman berkata, 'Demi Allah, setiap sahabat yang berjumlah seratus tiga puluh itu mendapat jatah hati kambing panggang dari Rasulullah SAW. Jika kebetulan orangnya hadir, maka Rasulullah langsung memberinya, dan sebaliknya, jika orang tersebut tidak hadir, maka Rasulullah menyimpan jatahnya. Abdurrahman berkata, "Rasulullah SAW membagi daging kambing tersebut menjadi dua periuk dan kami semua memakannya hingga kenyang. Lebih dari itu, kami pun tidak sanggup untuk menghabiskannya. Lalu sisanya dalam dua periuk itu kami angkut dengan unta. Begitulah ceritanya" {Muslim 6/129-130}
عن عَبْد الرَّحْمَنِ بْن أَبِي بَكْرٍ أَنَّ أَصْحَابَ الصُّفَّةِ كَانُوا نَاسًا فُقَرَاءَ وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَرَّةً مَنْ كَانَ عِنْدَهُ طَعَامُ اثْنَيْنِ فَلْيَذْهَبْ بِثَلَاثَةٍ وَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ طَعَامُ أَرْبَعَةٍ فَلْيَذْهَبْ بِخَامِسٍ بِسَادِسٍ أَوْ كَمَا قَالَ وَإِنَّ أَبَا بَكْرٍ جَاءَ بِثَلَاثَةٍ وَانْطَلَقَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَشَرَةٍ وَأَبُو بَكْرٍ بِثَلَاثَةٍ قَالَ فَهُوَ وَأَنَا وَأَبِي وَأُمِّي وَلَا أَدْرِي هَلْ قَالَ وَامْرَأَتِي وَخَادِمٌ بَيْنَ بَيْتِنَا وَبَيْتِ أَبِي بَكْرٍ قَالَ وَإِنَّ أَبَا بَكْرٍ تَعَشَّى عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ لَبِثَ حَتَّى صُلِّيَتْ الْعِشَاءُ ثُمَّ رَجَعَ فَلَبِثَ حَتَّى نَعَسَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَ بَعْدَمَا مَضَى مِنْ اللَّيْلِ مَا شَاءَ اللَّهُ قَالَتْ لَهُ امْرَأَتُهُ مَا حَبَسَكَ عَنْ أَضْيَافِكَ أَوْ قَالَتْ ضَيْفِكَ قَالَ أَوَ مَا عَشَّيْتِهِمْ قَالَتْ أَبَوْا حَتَّى تَجِيءَ قَدْ عَرَضُوا عَلَيْهِمْ فَغَلَبُوهُمْ قَالَ فَذَهَبْتُ أَنَا فَاخْتَبَأْتُ وَقَالَ يَا غُنْثَرُ فَجَدَّعَ وَسَبَّ وَقَالَ كُلُوا لَا هَنِيئًا وَقَالَ وَاللَّهِ لَا أَطْعَمُهُ أَبَدًا قَالَ فَايْمُ اللَّهِ مَا كُنَّا نَأْخُذُ مِنْ لُقْمَةٍ إِلَّا رَبَا مِنْ أَسْفَلِهَا أَكْثَرَ مِنْهَا قَالَ حَتَّى شَبِعْنَا وَصَارَتْ أَكْثَرَ مِمَّا كَانَتْ قَبْلَ ذَلِكَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا أَبُو بَكْرٍ فَإِذَا هِيَ كَمَا هِيَ أَوْ أَكْثَرُ قَالَ لِامْرَأَتِهِ يَا أُخْتَ بَنِي فِرَاسٍ مَا هَذَا قَالَتْ لَا وَقُرَّةِ عَيْنِي لَهِيَ الْآنَ أَكْثَرُ مِنْهَا قَبْلَ ذَلِكَ بِثَلَاثِ مِرَارٍ قَالَ فَأَكَلَ مِنْهَا أَبُو بَكْرٍ وَقَالَ إِنَّمَا كَانَ ذَلِكَ مِنْ الشَّيْطَانِ يَعْنِي يَمِينَهُ ثُمَّ أَكَلَ مِنْهَا لُقْمَةً ثُمَّ حَمَلَهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَصْبَحَتْ عِنْدَهُ قَالَ وَكَانَ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمٍ عَقْدٌ فَمَضَى الْأَجَلُ فَعَرَّفْنَا اثْنَا عَشَرَ رَجُلًا مَعَ كُلِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ أُنَاسٌ اللَّهُ أَعْلَمُ كَمْ مَعَ كُلِّ رَجُلٍ إِلَّا أَنَّهُ بَعَثَ مَعَهُمْ فَأَكَلُوا مِنْهَا أَجْمَعُونَ أَوْ كَمَا قَالَ
Dari Abdurrahman bin Abu Bakar RA bahwasanya kaum Shuffah, orang-orang yang tinggal di emperan masjid nabawi, adalah orang-orang yang fakir. Pada sautu hari, Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa memiliki makanan untuk dua orang, maka ajak makanlah tiga orang. Barang siapa memiliki makanan untuk empat orang, maka ajak makanlah lima atau enam orang." Atau demikianlah yang beliau sabdakan. Abu Bakar pernah datang bersama tiga orang, sedangkan Nabi Muhammad SAW datang bersama sepuluh orang. Sementara itu, tiga orang yang bersama Abu Bakar adalah saya, ayah saya, dan ibu saya. {Saya tidak tahu apakah ia menuturkan: istri saya dan pelayan di rumah kami dan rumah Abu Bakar}. Abdurrahman berkata, "Abu Bakar RA makan malam di tempat Rasulullah SAW dan ia belum pulang hingga usai shalat Isya. Sepertinya Rasulullah sudah mengantuk, lalu Abu Bakar pulang dan tiba di rumah setelah sebagian malam telah berlalu. Kemudian Abu Bakar ditanya istrinya, "Wahai suamiku, mengapa kamu biarkan saja tamu-tamumu?" Abu Bakar malah balik bertanya kepada istrinya, "Apakah kamu belum memberi mereka makan malam?" Istrinya menjawab, "Mereka tidak mau makan sebelum kamu datang. Sebenarnya makanan itu telah dihidangkan, tetapi mereka tetap tidak mau makan juga." Abdurrahman berkata, "Lalu saya keluar untuk menyelinap." Abu Bakar berkata, "Hai Ghuntsar!" Rupanya Abu Bakar berkata tidak enak {karena mencari saya} dan mempersilahkan para tamunya, "Silahkan menikmati hidangan kami seadanya ini!" Abu Bakar berkata, "Demi Allah, saya tidak turut mencicipinya." Abdurrahman berkata, "Demi Allah, setiap kami mengambil sesuap dari makanan itu, maka makanan tersebut selalu bertambah banyak dari arah bawahnya, hingga kami merasa kenyang dan makanan itu menjadi lebih banyak dari yang sebelumnya." Melihat makanan yang tidak berkurang sama sekali atau bahkan semakin bertambah banyak, maka Abu Bakar pun berkata kepada istrinya, "Hai saudara perempuan Bani Firas, keajaiban apa ini?" Istrinya menjawab, "Demi buah hatiku, sungguh makanan itu bertambah banyak tiga kali lipat dari sebelumnya." Abdurrahman berkata, "Abu Bakar mencicipi sebagian makanan itu seraya mengatakan sesuatu kepada istrinya, 'Hai istriku, sesungguhnya sumpahmu itu dari syetan.' Ternyata Abu Bakar hanya mencicipi sesuap saja dari makanan tersebut. Setelah itu, dibawanya makanan itu kepada Rasulullah SAW, hingga ia berada di sisi beliau. Abdurrahman berkata, "Kami mempunyai perjanjian dengan suatu kaum sedangkan batas waktunya telah berlalu. Kemudian kami mempersilahkan dua belas orang untuk makan yang masing-masing disertai anak buah beberapa orang. Hanya Allah lah Yang Maha Mengatahui berapa jumlah anak buah masing-masing dari dua belas orang tersebut. Abdurrahman berkata, "Yang jelas, masing-masing orang disertai beberapa anak buah. Mereka kemudian makan semuanya. {Demikianlah yang telah disampaikan}. {Muslim 6/130}