2/2/17

Harta Warisan Kalalah

عن جَابِر بْن عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا مَرِيضٌ لَا أَعْقِلُ فَتَوَضَّأَ فَصَبُّوا عَلَيَّ مِنْ وَضُوئِهِ فَعَقَلْتُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا يَرِثُنِي كَلَالَةٌ فَنَزَلَتْ آيَةُ الْمِيرَاثِ فَقُلْتُ لِمُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ يَسْتَفْتُونَكَ قُلْ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلَالَةِ قَالَ هَكَذَا أُنْزِلَتْ
Dari Jabir bin Abdullah RA, dia berkata, "Ketika saya sedang sakit keras —hingga tidak sadarkan
diri— Rasulullah SAW datang menjenguk. Kemudian beliau berwudhu dan menuangkan sebagian wudhunya kepada saya, hingga saya pun bangun dan tersadar. Lalu saya berkata, 'Ya Rasulullah, kalau saya meninggal dunia, maka yang akan mewarisi harta saya adalah kalalah'. Lalu turunlah ayat tentang waris. Lalu saya berkata kepada Muhammad bin Al Munkadir, 'Mereka meminta fatwa kepadamu, katakanlah, "Allah memberikan fatwa kepadamu tentang kalalah.''" Ia berkata, "Begitulah ayat tersebut turun." {Muslim: 5/60}
عَنْ مَعْدَانَ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ خَطَبَ يَوْمَ جُمُعَةٍ فَذَكَرَ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَكَرَ أَبَا بَكْرٍ ثُمَّ قَالَ إِنِّي لَا أَدَعُ بَعْدِي شَيْئًا أَهَمَّ عِنْدِي مِنْ الْكَلَالَةِ مَا رَاجَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَيْءٍ مَا رَاجَعْتُهُ فِي الْكَلَالَةِ وَمَا أَغْلَظَ لِي فِي شَيْءٍ مَا أَغْلَظَ لِي فِيهِ حَتَّى طَعَنَ بِإِصْبَعِهِ فِي صَدْرِي وَقَالَ يَا عُمَرُ أَلَا تَكْفِيكَ آيَةُ الصَّيْفِ الَّتِي فِي آخِرِ سُورَةِ النِّسَاءِ وَإِنِّي إِنْ أَعِشْ أَقْضِ فِيهَا بِقَضِيَّةٍ يَقْضِي بِهَا مَنْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَمَنْ لَا يَقْرَأُ الْقُرْآن
Dari Ma'dan bin Abu Thalhah, bahwa Umar bin Khaththab RA berkhutbah pada hari Jum'at. Dalam khutbahnya tersebut ia menyebut Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar RA seraya berkata, "Sesungguhnya saya tidak akan meninggalkan apa pun yang menurut saya lebih penting daripada kalalah. Saya tidak pernah mengulang-ulang konsultasi kepada Rasulullah tentang sesuatu yang melebihi konsultasi saya kepadanya tentang kalalah. Selain itu, beliau SAW juga tidak pernah bersikap keras dalam suatu hal melebihi sikap kerasnya kepadaku dalam perihal kalalah, sampai-sampai beliau menekankan jarinya ke dada saya sambil berkata, 'Hai Umar, belum cukupkah bagimu ayat shaif yang terdapat pada akhir surah An-Nisa'! Sesungguhnya jika aku masih hidup, maka aku akan menetapkan masalah kalalah dengan suatu ketetapan yang diputuskan oleh orang yang membaca Al Qur'an dan orang yang tidak membaca Al Qur'an. " {Muslim: 5/61}