2/6/17

Harta Rampasan Perang yang Tidak Dapat Dibagikan

عن مَالِك بْن أَوْسٍ قَالَ أَرْسَلَ إِلَيَّ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَجِئْتُهُ حِينَ تَعَالَى النَّهَارُ قَالَ فَوَجَدْتُهُ فِي بَيْتِهِ جَالِسًا عَلَى سَرِيرٍ مُفْضِيًا إِلَى رُمَالِهِ مُتَّكِئًا عَلَى وِسَادَةٍ مِنْ أَدَمٍ فَقَالَ لِي يَا مَالُ إِنَّهُ قَدْ دَفَّ أَهْلُ أَبْيَاتٍ مِنْ قَوْمِكَ وَقَدْ أَمَرْتُ فِيهِمْ بِرَضْخٍ فَخُذْهُ فَاقْسِمْهُ بَيْنَهُمْ قَالَ قُلْتُ لَوْ أَمَرْتَ بِهَذَا غَيْرِي قَالَ خُذْهُ يَا مَالُ قَالَ فَجَاءَ يَرْفَا فَقَالَ هَلْ لَكَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ فِي عُثْمَانَ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَالزُّبَيْرِ وَسَعْدٍ فَقَالَ عُمَرُ نَعَمْ فَأَذِنَ لَهُمْ فَدَخَلُوا ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ هَلْ لَكَ فِي عَبَّاسٍ وَعَلِيٍّ قَالَ نَعَمْ فَأَذِنَ لَهُمَا فَقَالَ عَبَّاسٌ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ اقْضِ بَيْنِي وَبَيْنَ هَذَا الْكَاذِبِ الْآثِمِ الْغَادِرِ الْخَائِنِ فَقَالَ الْقَوْمُ أَجَلْ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ فَاقْضِ بَيْنَهُمْ وَأَرِحْهُمْ فَقَالَ مَالِكُ بْنُ أَوْسٍ يُخَيَّلُ إِلَيَّ أَنَّهُمْ قَدْ كَانُوا قَدَّمُوهُمْ لِذَلِكَ فَقَالَ عُمَرُ اتَّئِدَا أَنْشُدُكُمْ بِاللَّهِ الَّذِي بِإِذْنِهِ تَقُومُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ أَتَعْلَمُونَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ قَالُوا نَعَمْ. ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى الْعَبَّاسِ وَعَلِيٍّ فَقَالَ أَنْشُدُكُمَا بِاللَّهِ الَّذِي بِإِذْنِهِ تَقُومُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ أَتَعْلَمَانِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَاهُ صَدَقَةٌ قَالَا نَعَمْ فَقَالَ عُمَرُ إِنَّ اللَّهَ جَلَّ وَعَزَّ كَانَ خَصَّ رَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِخَاصَّةٍ لَمْ يُخَصِّصْ بِهَا أَحَدًا غَيْرَهُ قَالَ مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ مَا أَدْرِي هَلْ قَرَأَ الْآيَةَ الَّتِي قَبْلَهَا أَمْ لَا قَالَ فَقَسَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَكُمْ أَمْوَالَ بَنِي النَّضِيرِ فَوَاللَّهِ مَا اسْتَأْثَرَ عَلَيْكُمْ وَلَا أَخَذَهَا دُونَكُمْ حَتَّى بَقِيَ هَذَا الْمَالُ فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْخُذُ مِنْهُ نَفَقَةَ سَنَةٍ ثُمَّ يَجْعَلُ مَا بَقِيَ أُسْوَةَ الْمَالِ ثُمَّ قَالَ أَنْشُدُكُمْ بِاللَّهِ الَّذِي بِإِذْنِهِ تَقُومُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ أَتَعْلَمُونَ ذَلِكَ قَالُوا نَعَمْ ثُمَّ نَشَدَ عَبَّاسًا وَعَلِيًّا بِمِثْلِ مَا نَشَدَ بِهِ الْقَوْمَ أَتَعْلَمَانِ ذَلِكَ قَالَا نَعَمْ قَالَ فَلَمَّا تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا وَلِيُّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجِئْتُمَا تَطْلُبُ مِيرَاثَكَ مِنْ ابْنِ أَخِيكَ وَيَطْلُبُ هَذَا مِيرَاثَ امْرَأَتِهِ مِنْ أَبِيهَا فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَاهُ صَدَقَةٌ فَرَأَيْتُمَاهُ كَاذِبًا آثِمًا غَادِرًا خَائِنًا وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُ لَصَادِقٌ بَارٌّ رَاشِدٌ تَابِعٌ لِلْحَقِّ. ثُمَّ تُوُفِّيَ أَبُو بَكْرٍ وَأَنَا وَلِيُّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَوَلِيُّ أَبِي بَكْرٍ فَرَأَيْتُمَانِي كَاذِبًا آثِمًا غَادِرًا خَائِنًا وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنِّي لَصَادِقٌ بَارٌّ رَاشِدٌ تَابِعٌ لِلْحَقِّ فَوَلِيتُهَا ثُمَّ جِئْتَنِي أَنْتَ وَهَذَا وَأَنْتُمَا جَمِيعٌ وَأَمْرُكُمَا وَاحِدٌ فَقُلْتُمَا ادْفَعْهَا إِلَيْنَا فَقُلْتُ إِنْ شِئْتُمْ دَفَعْتُهَا إِلَيْكُمَا عَلَى أَنَّ عَلَيْكُمَا عَهْدَ اللَّهِ أَنْ تَعْمَلَا فِيهَا بِالَّذِي كَانَ يَعْمَلُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخَذْتُمَاهَا بِذَلِكَ قَالَ أَكَذَلِكَ قَالَا نَعَمْ قَالَ ثُمَّ جِئْتُمَانِي لِأَقْضِيَ بَيْنَكُمَا وَلَا وَاللَّهِ لَا أَقْضِي
بَيْنَكُمَا بِغَيْرِ ذَلِكَ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ فَإِنْ عَجَزْتُمَا عَنْهَا فَرُدَّاهَا إِلَيَّ
Dari Malik bin Aus, dia berkata, "Pada suatu hari Khalifah Umar bin Khaththab RA mengutus seorang utusan kepada saya. Saya pun memenuhi panggilannya tersebut dan berangkat ke rumahnya pada siang hari. Sesampainya di sana saya mendapatkannya sedang duduk di atas ranjang yang beralaskan pelepah kurma, sambil bersandar pada sebuah bantal yang berisikan serabut dan kulit." Lalu Umar bin Khaththab berkata kepada saya, 'Hai Malik, ada beberapa orang kepala keluarga dari kaummu datang kepadaku dengan tergesa-gesa. Padahal aku telah memerintahkan agar mereka diberi bagian sedikit saja. Sekarang, ambil dan bagikanlah harta itu kepada mereka!' Saya berkata kepada Umar bin Khaththab, 'Bukankah sebaiknya Engkau perintahkan orang lain saja ya Amirul Mukminin?' Umar bin Khaththab malah berkata, 'Ambillah harta ini hai Malik!' Tiba-tiba Yarfa (pengawal pribadi Umar bin Khaththab) masuk ke dalam dan berkata, 'Ya Amirul Mukminin, apakah engkau memperkenankan Utsman, Abdurahman bin Auf, Zubair, dan Sa'ad masuk ke dalam?' Umar bin Khaththab menjawab, 'Ya.' Setelah itu pengawal mempersilahkan mereka, masuk. Kemudian pengawal itu datang lagi seraya berkata kepada Umar bin Khaththab, 'Ya Amirul Mukminin, apakah engkau memperkenankan juga Abbas dan Ali masuk ke dalam?' Umar bin Khaththab menjawab, 'Ya.' Lalu pengawal tersebut mempersilakan keduanya masuk untuk menghadap Umar bin Khaththab. Abbas berkata, 'Ya Amirul Mukminin,' 'Tolong putuskan perkara saya dengan sang pembohong dan pengkhianat ini!' Para sahabat Nabi yang hadir saat itu pun berkata, 'Benar ya Amirul Mukminin! Sebaiknya engkau segera putuskan perkara kedua sahabat Rasulullah ini dan berikanlah hak keduanya!'" (Malik bin Aus berkata, "Menurut dugaan saya, mereka (Utsman, Abdurahman bin Auf, Zubair, dan Sa'ad), sengaja datang terlebih dahulu sebelum Ali dan Abbas datang). Umar bin Khaththab menjawab, 'Sabarlah! Aku akan mengambil sumpah kalian terlebih dahulu dengan nama Allah, dzat Yang telah menciptakan langit dan bumi. Bukankah kalian mengetahui bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, "Harta yang aku tinggalkan tidak dapat diwarisi, tetapi merupakan sebuah sedekah saja''." Mereka (Utsman, Abdurahman bin Auf, Zubair, dan Sa'ad) menjawab, 'Ya, kami mengetahuinya.' Kemudian Umar mendekati Ali dan Abbas RA seraya berkata, 'Aku akan mengambil sumpah kalian berdua dengan nama Allah, dzat yang telah menciptakan langit dan bumi. Bukankah kalian berdua mengetahui bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Harta yang aku tinggalkan tidak dapat diwarisi, tetapi merupakan sebuah sedekah saja'." Kedua sahabat Nabi itu menjawab, 'Ya, kami mengetahuinya.' Selanjutnya Umar bin Khaththab berkata, 'Sesungguhnya Allah SWT memberikan suatu keistimewaan kepada Rasulullah SAW, yang mana keistimewaan tersebut tidak diberikan kepada siapapun selain beliau.' Kemudian Umar membacakan sebuah ayat Al Qur'an yang berbunyi: 'Apa saja harta rampasan yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk beberapa kota, maka adalah untuk Allah dan Rasul-Nya.' Saya tidak tahu apakah Umar membaca ayat sebelumnya atau tidak. Lalu Umar berkata, 'Rasulullah SAW membagi-bagikan harta benda Bani Nadhir kepada kalian. Demi Allah, beliau tidak pernah menipu kalian dan tidak pernah pula membagikannya kepada orang selain kalian, hingga harta tersebut masih tersisa. Dahulu Rasulullah memang pernah mengambil darinya untuk kebutuhan selama satu tahun. Setelah itu selebihnya beliau serahkan kepada negara. Sekarang aku akan mengambil sumpah kalian semua dengan nama Allah, dzat yang telah menciptakan langit dan bumi. Bukankah kalian telah mengetahui hal itu semua?' Keempat para sahabat Nabi itu menjawab, 'Ya, kami mengetahuinya.' Kemudian Umar mengambil sumpah Ali dan Abbas, seperti yang dilakukan kepada keempat sahabat sebelumnya, seraya berkata, 'Bukankah kalian berdua mengetahui hal itu semua?' Kedua sahabat Nabi itu menjawab, 'Ya, kami berdua telah mengetahuinya.' Lalu Umar berkata, 'Ketika Rasulullah SAW telah meninggal dunia, Khalifah Abu Bakar pernah berkata, "Aku adalah wakil Rasulullah! Salah seorang dari kalian pernah datang kepadanya untuk menuntut warisan dari kemenakannya. Sementara seorang lagi datang kepadanya untuk menuntut warisan istrinya dari mertuanya." Lalu Khalifah Abu Bakar berkata, "Rasulullah SAW pernah bersabda, 'Harta yang aku tinggalkan tidak dapat diwariskan tetapi hanya merupakan sedekah." Ironisnya kalian berdua berpendapat lain. Menurut kalian Khalifah Abu Bakar adalah seorang lelaki pembohong, pendusta, dan pengkhianat. Demi Allah, sebenarnya Khalifah Abu Bakar adalah seorang pemimpin yang jujur, baik hati, cerdas, dan selalu berjalan pada kebenaran. Setelah Abu Bakar meninggal dunia, maka aku yang menjadi wakil Rasulullah SAW sekaligus wakil Abu Bakar. Tetapi sayangnya kalian berdua beranggapan bahwa aku adalah seorang pembohong, pendusta, dan pengkhianat. Namun Allah SWT Maha Mengetahui bahwa aku seorang pemimpin yang jujur, sering berbuat baik, cerdas, dan cinta kepada kebenaran. Sekarang aku yang menjadi pengurus dan penanggung jawab harta tersebut. Kalian berdua datang kepadaku secara terpisah ataupun bersama-sama, namun tujuan dan urusan kalian berdua tetap sama yaitu agar aku memberikan harta peninggalan itu kepada kalian berdua. Jika kalian tetap bersikeras menuntut harta tersebut agar diberikan kepada kalian, maka aku pasti akan menyerahkannya. Namun dengan syarat kalian harus menerapkan aturannya sebagaimana yang diterapkan oleh Rasulullah SAW. Kalian hendak mengambilnya dengan cara seperti itu. Lalu, cara seperti inikah yang kalian kehendaki?' Ali dan Abbas RA menjawab, 'Ya. Cara seperti inilah yang kami kehendaki.' Umar bin Khaththab bertanya, 'Tetapi bukankah kedatangan kalian berdua adalah untuk menerima keputusanku? Demi Allah, aku tidak akan memberikan keputusan apapun kepada kalian dengan cara seperti itu. Aku tidak akan memenuhi permintaan itu hingga hari kiamat. Apabila kalian merasa keberatan, maka kalian dapat menyerahkannya padaku.'" {Muslim 5/151-153}
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا أَخْبَرَتْهُ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْسَلَتْ إِلَى أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ تَسْأَلُهُ مِيرَاثَهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْهِ بِالْمَدِينَةِ وَفَدَكٍ وَمَا بَقِيَ مِنْ خُمْسِ خَيْبَرَ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ إِنَّمَا يَأْكُلُ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْمَالِ وَإِنِّي وَاللَّهِ لَا أُغَيِّرُ شَيْئًا مِنْ صَدَقَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ حَالِهَا الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهَا فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَأَعْمَلَنَّ فِيهَا بِمَا عَمِلَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَبَى أَبُو بَكْرٍ أَنْ يَدْفَعَ إِلَى فَاطِمَةَ شَيْئًا فَوَجَدَتْ فَاطِمَةُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ فِي ذَلِكَ قَالَ فَهَجَرَتْهُ فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ وَعَاشَتْ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ دَفَنَهَا زَوْجُهَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ لَيْلًا وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ وَصَلَّى عَلَيْهَا عَلِيٌّ وَكَانَ لِعَلِيٍّ مِنْ النَّاسِ وِجْهَةٌ حَيَاةَ فَاطِمَةَ فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ اسْتَنْكَرَ عَلِيٌّ وُجُوهَ النَّاسِ فَالْتَمَسَ مُصَالَحَةَ أَبِي بَكْرٍ وَمُبَايَعَتَهُ وَلَمْ يَكُنْ بَايَعَ تِلْكَ الْأَشْهُرَ فَأَرْسَلَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ أَنْ ائْتِنَا وَلَا يَأْتِنَا مَعَكَ أَحَدٌ كَرَاهِيَةَ مَحْضَرِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ عُمَرُ لِأَبِي بَكْرٍ وَاللَّهِ لَا تَدْخُلْ عَلَيْهِمْ وَحْدَكَ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ وَمَا عَسَاهُمْ أَنْ يَفْعَلُوا بِي إِنِّي وَاللَّهِ لَآتِيَنَّهُمْ فَدَخَلَ عَلَيْهِمْ أَبُو بَكْرٍ فَتَشَهَّدَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ ثُمَّ قَالَ إِنَّا قَدْ عَرَفْنَا يَا أَبَا بَكْرٍ فَضِيلَتَكَ وَمَا أَعْطَاكَ اللَّهُ وَلَمْ نَنْفَسْ عَلَيْكَ خَيْرًا سَاقَهُ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَكِنَّكَ اسْتَبْدَدْتَ عَلَيْنَا بِالْأَمْرِ وَكُنَّا نَحْنُ نَرَى لَنَا حَقًّا لِقَرَابَتِنَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَزَلْ يُكَلِّمُ أَبَا بَكْرٍ حَتَّى فَاضَتْ عَيْنَا أَبِي بَكْرٍ فَلَمَّا تَكَلَّمَ أَبُو بَكْرٍ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَرَابَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ إِلَيَّ أَنْ أَصِلَ مِنْ قَرَابَتِي وَأَمَّا الَّذِي شَجَرَ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ مِنْ هَذِهِ الْأَمْوَالِ فَإِنِّي لَمْ آلُ فِيهَا عَنْ الْحَقِّ وَلَمْ أَتْرُكْ أَمْرًا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُهُ فِيهَا إِلَّا صَنَعْتُهُ فَقَالَ عَلِيٌّ لِأَبِي بَكْرٍ مَوْعِدُكَ الْعَشِيَّةُ لِلْبَيْعَةِ فَلَمَّا صَلَّى أَبُو بَكْرٍ صَلَاةَ الظُّهْرِ رَقِيَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَتَشَهَّدَ وَذَكَرَ شَأْنَ عَلِيٍّ وَتَخَلُّفَهُ عَنْ الْبَيْعَةِ وَعُذْرَهُ بِالَّذِي اعْتَذَرَ إِلَيْهِ ثُمَّ اسْتَغْفَرَ وَتَشَهَّدَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ فَعَظَّمَ حَقَّ أَبِي بَكْرٍ وَأَنَّهُ لَمْ يَحْمِلْهُ عَلَى الَّذِي صَنَعَ نَفَاسَةً عَلَى أَبِي بَكْرٍ وَلَا إِنْكَارًا لِلَّذِي فَضَّلَهُ اللَّهُ بِهِ وَلَكِنَّا كُنَّا نَرَى لَنَا فِي الْأَمْرِ نَصِيبًا فَاسْتُبِدَّ عَلَيْنَا بِهِ فَوَجَدْنَا فِي أَنْفُسِنَا فَسُرَّ بِذَلِكَ الْمُسْلِمُونَ وَقَالُوا أَصَبْتَ فَكَانَ الْمُسْلِمُونَ إِلَى عَلِيٍّ قَرِيبًا حِينَ رَاجَعَ الْأَمْرَ الْمَعْرُوفَ
Dari Aisyah RA, bahwa Fatimah putri Rasulullah SAW pernah datang kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA untuk meminta harta warisan peninggalan ayahnya (Nabi Muhammad SAW) yang berupa harta hasil rampasan perang di kota Madinah dan daerah Fadak, serta seperlima hasil rampasan perang Khaibar yang masih tersisa. Permintaan putri Rasulullah SAW dijawab oleh Khalifah Abu Bakar dengan ucapan, "'Wahai Fatimah, sesungguhnya Rasulullah SAW pernah bersabda, 'Harta peninggalan kami tidak dapat diwarisi. Yang kami tinggalkan hanya berupa sedekah saja. Sementara keluarga Muhammad SAW hanya boleh menikmati sedekah itu'." Demi Allah! wahai Fatimah, saya tidak berani merubah sedikitpun sedekah yang telah Rasulullah SAW tetapkan. Biarkan seperti pada masa Rasulullah hidup, dan saya akan melakukan seperti yang beliau lakukan. Ternyata Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menolak untuk memberikan sedikitpun harta rampasan perang tersebut kepada Fatimah, putri Rasulullah SAW. Oleh karena itu Fatimah sangat gusar dan marah kepada sikap Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia enggan menyapa Abu Bakar —apalagi mengajaknya berbicara— hingga ajal menjemputnya, tepatnya enam bulan setelah wafatnya Rasulullah SAW. Ketika Fatimah (putri Rasulullah SAW) meninggal dunia, jenazahnya dimakamnya oleh suaminya sendiri yaitu Ali bin Abu Thalib RA pada malam hari, tanpa memberitahukan terlebih dahulu kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq. Setelah itu Ali pula yang menyembahyangkan jenazah istrinya (Fatimah binti Muhammad SAW) Ketika Fatimah masih hidup, banyak orang yang menaruh hormat kepada Ali bin Abu Thalib. Tetapi hal itu mulai berubah ketika Fatimah telah meninggal dunia. Lalu Ali bin Abu Thalib mulai berpikir untuk segera berdamai dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan sekaligus membaiatnya, karena selama beberapa bulan, ia tidak sempat menemuinya untuk membaiatnya. Kemudian Ali bin Abu Thalib megirimkan sepucuk surat kepada Khalifah Abu Bakar yang isinya sebagai berikut: "Harap engkau berkenan menemui saya, tetapi jangan sampai ada seorangpun yang ikut menemani engkau." (Sepertinya Ali tidak suka apabila Abu Bakar datang dengan ditemani Umar bin Khaththab). Setelah mengetahui isi surat Ali tersebut, Umar bin Khaththab menyarankan Abu Bakar seraya berkata kepadanya, "Hai sahabatku, sebaiknya engkau tidak usah menemuinya seorang diri." Abu Bakar Ash-Shiddiq RA menjawab, "Hai Umar, aku yakin Ali bin Abu Thalib tidak akan berbuat macam-macam kepadaku. Demi Allah, aku pasti akan menemuinya." Dengan penuh keyakinan akhirnya Abu Bakar pergi menemui Ali bin Abu Thalib RA (suami Fatimah binti Muhammad Rasulullah SAW). Ketika bertemu, Ali bin Abu Thalib langsung mengucapkan bai'atnya kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA seraya berkata, "Wahai Abu Bakar, sesungguhnya saya telah mengetahui segala keutamaan dan kebaikan yang Allah anugerahkan kepada engkau. Saya tidak merasa iri dan dengki pada anugerah yang telah Allah limpahkan kepada engkau. Tetapi menurut pengakuan saya, engkau telah berbuat sewenang-wenang terhadap saya. Sebagai keluarga terdekat Rasulullah, semestinya saya mempunyai hak untuk memperoleh harta peninggalan beliau. Ucapan-ucapan seperti itu begitu deras meluncur dari mulut Ali bin Abu Thalib yang ditujukan kepada Khalifah Abu Bakar. Hingga Abu Bakar tidak tahan lagi untuk mendengarnya, dan akhirnya ia mencucurkan air mata. Dengan perasaan haru Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq berupaya menjelaskan masalah ini kepadanya, "Demi dzat yang jiwa saya berada di tangan-Nya, sebenarnya keluarga dan kerabat Rasulullah SAW jauh lebih saya cintai daripada keluarga saya sendiri. Mengenai harta warisan yang tengah kita perselisihkan ini, sebenarnya saya selalu berupaya bersikap adil dan bijaksana serta berpijak kepada kebenaran. Saya tidak akan pernah meninggalkan apa yang dilakukan Rasulullah, bahkan saya akan selalu mempertahankannya." Lalu Ali bin Abu Thalib berkata kepada Abu Bakar, "Wahai Khalifaturrasul, bagaimana pun saya akan tetap membai'at engkau nanti sore." Selesai melaksanakan shalat Zhuhur, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq langsung naik ke atas mimbar. Setelah membaca syahadat, ia pun mencoba menjelaskan kepada kaum muslimin yang hadir pada saat itu masalah keterlambatan Ali bin Abu Thalib untuk berbai'at beserta alasannya. Lalu ia pun membaca istighfar. Setelah itu, tibalah giliran Ali bin Abu Thalib yang akan berbicara di atas mimbar. Setelah membaca dua kalimat syahadat dan menghormati sikap Abu Bakar, maka Ali menyatakan bahwa ia tidak merasa iri dan dengki sama sekali terhadap keutamaan dan kelebihan yang dianugerahkan Allah kepada Khalifah Abu Bakar. "Akan tetapi, "lanjut Ali, "Kami, keluarga terdekat Rasulullah SAW melihat bahwa beliau berlaku tidak adil terhadap keluarga kami terutama dalam hal harta rampasan perang peninggalan Rasulullah. Jadi, sudah menjadi hak kami untuk menuntut hak tersebut." Mayoritas kaum muslimin yang hadir pada saat itu merasa gembira mendengar pernyataan Ali bin Abu Thalib, selaku wakil dari keluarga besar Rasulullah. "Benar apa yang engkau ucapkan wahai Ibnu Abu Thalib!" seru mereka. Bagaimanapun, akhirnya Ali bin Abu Thalib menjadi lebih dekat kepada kaum muslimin, setelah ia berani mengungkapkan suatu kebenaran. {Muslim 5/153-154}
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَقْتَسِمُ وَرَثَتِي دِينَارًا مَا تَرَكْتُ بَعْدَ نَفَقَةِ نِسَائِي وَمَئُونَةِ عَامِلِي فَهُوَ صَدَقَةٌ
Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Harta warisanku tidak dapat dibagikan satu dinar pun. Harta yang aku tinggalkan selain untuk nafkah istri-istriku dan memberi upah para pekerja, adalah sedekah' {Muslim 5/156}