2/21/17

Berobat Dengan Canduk dan Besi Panas

عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُمَرَ بْنِ قَتَادَةَ قَالَ جَاءَنَا جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ فِي أَهْلِنَا وَرَجُلٌ يَشْتَكِي خُرَاجًا بِهِ أَوْ جِرَاحًا فَقَالَ مَا تَشْتَكِي قَالَ خُرَاجٌ بِي قَدْ شَقَّ عَلَيَّ فَقَالَ يَا غُلَامُ ائْتِنِي بِحَجَّامٍ فَقَالَ لَهُ مَا تَصْنَعُ بِالْحَجَّامِ يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ قَالَ أُرِيدُ أَنْ أُعَلِّقَ فِيهِ مِحْجَمًا قَالَ وَاللَّهِ إِنَّ الذُّبَابَ لَيُصِيبُنِي أَوْ يُصِيبُنِي الثَّوْبُ فَيُؤْذِينِي وَيَشُقُّ عَلَيَّ فَلَمَّا رَأَى تَبَرُّمَهُ مِنْ ذَلِكَ قَالَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنْ كَانَ فِي شَيْءٍ مِنْ أَدْوِيَتِكُمْ خَيْرٌ فَفِي شَرْطَةِ مِحْجَمٍ أَوْ شَرْبَةٍ مِنْ عَسَلٍ أَوْ لَذْعَةٍ بِنَارٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا أُحِبُّ أَنْ أَكْتَوِيَ قَالَ فَجَاءَ بِحَجَّامٍ فَشَرَطَهُ فَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ
Dari Ashim bin Umar bin Qatadah, bahwasanya ia berkata, "Jabir bin Abdullah pernah mendatangi
kami pada keluarga kami. Kebetulan, ketika itu ada seseorang yang menderita sakit bengkak bernanah atau luka. Lalu Jabir berkata, 'Kamu sakit apa?' Ia menjawab, "Bengkak saya sakit sekali." Jabir berkata, "Hai pelayan, panggil tukang bekam kemari!" Orang yang sakit itu bertanya, "Ya Abu Abdullah, apa yang akan kamu perintahkan pada tukang bekam itu?" Jabir menjawab, "Saya akan menyuruhnya untuk membekam bengkakmu." Orang sakit itu berkata, "Demi Allah, dihinggapi lalat atau tersentuh kainnya saja sakit sekali. Apalagi jika dibekam." Ketika Jabir mengetahui bahwa orang yang sakit tersebut enggan untuk dibekam, maka ia pun berkata, "Sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah bersabda, 'Di antara penyembuhan yang ampuh adalah berbekam, minum madu, atau sundutan dengan panas api." Sabda beliau selanjutnya, "Tetapi aku tidak suka penyembuhan dengan besi yang dipanasi." Ashim berkata, "Lalu pelayan tersebut datang dengan membawa tukang bekam. Kemudian tukang bekam itu membekam bagian tubuh orang yang sakit itu, sehingga hilanglah sakit yang dideritanya." {Muslim 7/21-22}
عَنْ جَابِرٍ أَنَّ أُمَّ سَلَمَةَ اسْتَأْذَنَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحِجَامَةِ فَأَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبَا طَيْبَةَ أَنْ يَحْجُمَهَا قَالَ حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ كَانَ أَخَاهَا مِنْ الرَّضَاعَةِ أَوْ غُلَامًا لَمْ يَحْتَلِمْ
Dari Jabir bahwasanya Ummu Salamah RA, memohon izin kepada Rasulullah untuk berbekam. Kemudian Rasulullah menyuruh Abu Thaibah untuk membekamnya. Jabir berkata, "Abu Thaibah adalah saudara laki-laki Ummu Salamah sesusuan atau seorang anak yang belum dewasa." {Muslim 7/22}