1/16/17

Penghapusan Wajib Mandi Sebab Keluar Sperma dan Wajibnya Mandi karena Bertemunya Dua Kemaluan (Laki-laki dan Perempuan)

عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ اخْتَلَفَ فِي ذَلِكَ رَهْطٌ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ فَقَالَ الْأَنْصَارِيُّونَ لَا يَجِبُ الْغُسْلُ إِلَّا مِنْ الدَّفْقِ أَوْ مِنْ الْمَاءِ وَقَالَ الْمُهَاجِرُونَ بَلْ إِذَا خَالَطَ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ قَالَ قَالَ أَبُو مُوسَى فَأَنَا أَشْفِيكُمْ مِنْ ذَلِكَ فَقُمْتُ فَاسْتَأْذَنْتُ عَلَى عَائِشَةَ فَأُذِنَ لِي فَقُلْتُ لَهَا يَا أُمَّاهْ أَوْ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَسْأَلَكِ عَنْ شَيْءٍ وَإِنِّي أَسْتَحْيِيكِ فَقَالَتْ لَا تَسْتَحْيِي أَنْ تَسْأَلَنِي عَمَّا كُنْتَ سَائِلًا عَنْهُ أُمَّكَ الَّتِي وَلَدَتْكَ فَإِنَّمَا أَنَا أُمُّكَ قُلْتُ فَمَا يُوجِبُ الْغُسْلَ قَالَتْ عَلَى الْخَبِيرِ سَقَطْتَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الْأَرْبَعِ وَمَسَّ الْخِتَانُ الْخِتَانَ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ
Dari Abu Musa RA Al Asyari,dia berkata, "Sekelompok kaum muhajirin dan kaum Anshar berbeda
pendapat mengenai mandi junub. Kaum Anshar mengatakan, "Mandi junub itu tidak wajib kecuali bila mengeluarkan air mani." Kaum Muhajirin mengatakan, "Bukan demikian, namun kalau seseorang bersetubuh maka dia wajib mandi (walaupun tidak mengeluarkan air mani)."Abu Musa berkata, "Saya akan menyelesaikan permasalahan ini." Kemudian saya (Abu Musa) berdiri, lalu meminta izin untuk bertemu Aisyah RA dan saya diizinkan. Kemudian saya bertanya kepada Aisyah, "Wahai Ummul Mukminin! Sebenarnya saya ingin menanyakan sesuatu kepadamu, namun saya merasa malu." Aisyah menjawab, "Janganlah kamu merasa malu untuk bertanya kepadaku tentang sesuatu yang hendak kamu tanyakan kepada Ibumu sendiri, karena saya adalah ibumu juga." Saya bertanya kepadanya, "Apa yang mewajibkan mandi?" Aisyah menjawab, "Tepat sekali kamu bertanya. Bahwasanya Rasululah SAW bersabda, 'Apabila seseorang bersetubuh (dengan istrinya) dan bertemu dua kemaluan, maka wajib mandi." {Muslim 1/187}
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أُمِّ كُلْثُومٍ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ إِنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الرَّجُلِ يُجَامِعُ أَهْلَهُ ثُمَّ يُكْسِلُ هَلْ عَلَيْهِمَا الْغُسْلُ وَعَائِشَةُ جَالِسَةٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَفْعَلُ ذَلِكَ أَنَا وَهَذِهِ ثُمَّ نَغْتَسِلُ
Dari Jabir bin Abdullah dari Ibnu Kultsum dari Aisyah (istri Nabi SAW), dia berkata, "Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah tentang suami yang menyetubuhi istrinya lalu bermalas-malasan tanpa mengeluarkan mani, apakah keduanya wajib mandi?" Ketika itu Aisyah sedang duduk, maka Rasulullah SAW menjawab, "Sesungguhnya aku dan perempuan ini (Aisyah) pernah berbuat demikian itu, lalu kami mandi." {Muslim 1/187}