2/22/17

Jauhnya Rasulullah dari Dosa dan Perbuatan yang Diharamkan

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا قَالَتْ مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ وَمَا انْتَقَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهِ إِلَّا أَنْ تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Dari Aisyah RA, istri Rasulullah SAW, dia berkata, "Rasulullah tidak pernah dihadapkan kepada dua
pilihan, melainkan beliau akan memilih yang lebih mudah selama bukan perbuatan dosa. Jika pilihan tersebut merupakan perkara dosa, maka beliau adalah orang yang paling jauh dari dosa. Rasulullah SAW tidak pernah marah karena masalah pribadinya diusik, tetapi beliau akan marah besar jika larangan Allah dilanggar." {Muslim 7/80}